-->

Sinkronkan Karakteristik anak dengan minat dan bakatnya

Aku dan Aisyah
Sambil menunggu anak di sekolah dengan setengah mata hampir tertutup, saya memutuskan untuk mengisi Blog saja. Lagi semangat nihh ... berbicara mengenai parenting tiada habisnya yaa ... untuk anak gitu loh. Ibu mana sih yang ngga ingin yang terbaik untuk anaknya?

Sehari sebelum ulang tahun Aisyah kemarin, saya iseng melakukan Finger Test pada Aisyah, saya ingin tahu karakter Genetiknya dia. Teman-teman mungkin sudah pernah dengar mengenai STIFIn test (Sensing Thinking Intuiting Feeling Instinct). Dari STIFIn itu, masing-masingnya terbagi menjadi 2 lagi yaitu Introvert atau Extrovert.

Aisyah anak yang aktif, pada awalnya saya berpikir dia anak tipe Sensing yang ulet dan daya khayalnya tinggi karena bukan tipikal yang bisa duduk tenang. Tipe permainan yang ia sukai yang berhubungan dengan olah tubuh seperti berlari, melompat, memanjat, juga menari. Di samping itu dia juga suka bernyanyi. Ketika mencoba web tool Smart Strength Finder, hasilnya adalah Body Smart, People Smart, dan Music Smart.

Hasil Finger Test Aisyah di luar perkiraan ... ternyata dia tipe anak Feeling extrovert (Fe), dimana merupakan anak yang baper alias bawa perasaan, hihihiii, mudah tersentuh, manja, tapi pandai bergaul. Gaya belajarnya harus full pendampingan oleh orang tua, jika tidak ia akan malas untuk belajar. Dia paling sesuai menjadi seorang coach karena tipe ini adalah tipe King Maker. Tipe orang dibalik kesuksesan orang lain. Dan tentu merupakan kesuksesannya sendiri juga jika sudah berhasil menciptakan raja baru. Untuk jenjang akademis, ia sesuai jika mengambil jalur psikology. Di samping itu, karena mudah mencari massa, ia juga cocok jika menjadi politisi, tapi sebagai ibu saya tidak pernah mengharapkan anak saya terjun ke dunia politik.

Kemudian mengenai aktifnya Aisyah yang luar biasa, ternyata berkaitan dengan golongan darahnya. Orang bergolongan darah B cenderung aktif. Oleh karena itu, sebelum melakukan Finger Test, ada baiknya mengetahui golongan darah anak terlebih dahulu ya? Finger test bisa dilakukan oleh anak berusia 2 tahun hingga usia dewasa.

Hasil tes jari ini hanya berdasarkan faktor genetik dimana faktor genetik seorang anak itu hanya berpengaruh 20% dalam hidupnya, 80% nya lagi dipengaruhi oleh lingkungan. Tapi dengan tes ini, kita jadi punya gambaran, bagaimana agar mengarahkan ia ke bidang yang sesuai dengan karakteristiknya. Tentu saja akan saya sinkronkan dengan hasil tes lainnya seperti Smart Strength Finder dan analisa saya sendiri mengenai minat dan bakat anak saya. Saya sebagai ibu kan hanya bisa bertugas sebagai pemberi dukungan moril dan materil, selebihnya biarkan anak sendiri yang memutuskan.

Saya perhatikan Aisyah memang agak sensitif, ditegur sedikit bisa mewek, bahkan bisa nangis diam-diam tanpa suara, hanya wajahnya yang merah dan matanya berkaca-kaca. Jika malu karena ketahuan, ia akan balik membentak saya, tapi saya maklum bahwa sebenarnya ia tidak bermaksud marah, justru ia sedang terluka.

Selain itu, meskipun sudah saya berikan ipad agar saya bisa sedikit santai sekali-kali (maklum, ibu juga manusia yang bisa jenuh), Aisyah itu masih suka menegur saya bahkan menarik serta saya untuk ikut dalam permainan di Ipadnya. Tidak salah jika hasilnya menyatakan Feeling extrovert. Di sekolah dia juga disukai teman-temannya karena kesupelannya dia.

Karena ia sering meniru gerakan Ballet, saya memasukkannya ke kursus Ballet. Sudah 4 kali pertemuan kelas Ballet Aisyah jalankan. Saya juga berpegang pada Buku Ayah Edy yang saya baca bahwa perlu mengadakan uji coba pada anak sedini mungkin, asal tidak ada paksaan yang membuat anak melakukan penolakan sampai menangis. Sejauh ini Aisyah fun-fun saja di kelas Ballet. Hanya ketika awal masuk seperti biasa, ia perlu adaptasi terlebih dahulu, masih menarik saya kesini-sana. Rencananya saya akan uji sampai pertemuan ke 16, seperti saran Ayah Edy minimal uji coba adalah 3 bulan, jika setelah 3 bulan anak masih tertarik ya silakan lanjut, tapi jika tidak berarti minat anak tidak benar-benar pada bidang itu. Harus dicoba pada bidang lainnya.

Sementara ini Aisyah masih sekolah, saya sekolahkan ia di kelas bermain sejak ia berusia 2 tahun kurang 1 bulan. Sekarang usianya sudah 3 tahun dan sebentar lagi bagi report dan berganti tahun ajaran. Kalau Aisyah masih lanjut, ia sudah masuk ke kelas preschool A, tapi saya berencana agar Aisyah break sekolah dulu sebelum masuk TK agar ia tidak bosan sekolah terus-menerus. Balletnya masih lanjut sampai pertemuan ke 16, kemudian analisa kembali. Saya juga ada rencana mencoba Aisyah ke kelas musik, tapi sementara menari dulu. Di studio latihan ballet Aisyah juga ada Zumba Kids, asyik banget, saya rasa Aisyah pasti menikmati juga gerakan Zumba, karena ia juga senang menari dengan musik cepat seperti itu, tapi ntar dulu, takutnya anak jenuh dan enek terlalu dicekokin oleh emaknya, hehehee.

Duh, berbicara mengenai anak, karakteristiknya, bakatnya, minatnya, dan sekolahnya, ngga pernah ada habisnya yah, ... kalau ngikutin keinginan emaknya, saya sih ingin dia jadi artis, wkwkwkk ... cita-cita emak yang ngga kesampaian kayaknya. Ngga dink, soalnya dari dulu berpikir kalau artis itu banyak duitnya, tapi kesuksesan kan ngga diukur dari uang saja. Yang penting cari nama dulu deh. Kalau sudah ada nama, wah uang sendiri yang akan cari kita, iya ngga emak-emak?

Saya sendiri belajar dari ketersesatan saya, hihihii, saya kuliah di bidang yang tidak sesuai dengan kepribadian saya, pariwisata. Lulus kuliah saya malah kerja di provider telekomunikasi dan di Bank sebagai Customer Service. Padahal kalau melihat kepribadian saya, saya orang yang tidak pandai komunikasi dan pemalu, tentu saja tidak sepenuhnya enjoy menjalani perkuliahan dan pekerjaan saya. Kalaupun akhirnya saya pandai komunikasi di balik meja CS, itu semua karena profesionalisme saja.

Saya suka menulis cerita sejak kelas 4 SD meskipun tulisan saya jelek, tetapi ketika saya dewasa dan bertanya pada orangtua, bagaimana jika saya kuliah di Sastra Indo saja yang sesuai dengan bidang saya, kata Mami saya, menjadi penulis juga bisa tanpa kuliah. Padahal jika saya kuliah di Sastra Indo, mungkin saja kualitas tulisan saya menjadi lebih baik, bahkan bisa menjadi penulis sekelas JK Rowling, hihihiii.

Tapi tidak boleh menyesali yang sudah lewat, yang bisa dilakukan adalah membiarkan anak kita tumbuh lebih terarah, agar ia tidak tersesat begitu jauh seperti saya, agar ia terbiasa dan ngotot dengan keinginannya sendiri, kemudian tugas kita sebagai orang tua hanyalah membuat ia fokus pada satu tujuannya itu. Tidak mestilah anak kita unggul pada semua mata pelajaran tapi dengan kemampuan rata-rata alias menjadi orang yang biasa-biasa saja, melainkan agar anak kita unggul pada satu bidang yang menjadikannya ia orang yang luar biasa yang diakui di Indonesia maupun di dunia.

Kalaupun anak saya ingin menjadi ballerina, saya tak mencegah, kalau perlu ia menjadi ballerina tingkat Internasional yang bisa membawa nama Indonesia. Tentu saja bukan sekedar Ballerina biasa, alangkah indahnya jika ia bisa menggabungkan tarian ballet dengan tradisional Indonesia. Pokoknya apapun mimpi anak saya, itu akan menjadi mimpi saya juga. 

Tetap semangatt para Mami Keceh !!!
InsyaAllah jalan kita masih panjang.

You Might Also Like

0 comments