Terapi untuk anak dengan ADHD terhadap si aktif

Setelah ditunggu-tunggu selama sebulan lamanya, akhirnya kemarin Aisyah resmi menjadi murid Yamaha Music School alias first time menginjakkan kaki di Kelas Musik.

Di Kelas Musik Aisyah bertemu lagi dengan Kemangi, anak blesteran/indo barat, yang kebetulan sempat bersama di Ballet Class, trus pas mau pulang juga bertemu dengan Grace yang dulu sekelas di Ballet juga tetapi Grace sudah masuk semester 2. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa Aisyah tidak lanjut Ballet karena susah sekali diajak masuk ke dalam studio.

Sejauh yang saya amati di ruang musik, dia menikmatinya meskipun masih susah diajak duduk tenang di dalam ruangan, dia memang tipikal yang tidak bisa diam alias luar biasa aktifnya, senang sekali berlari kesana-kemari meminta orang lain mengejarnya, sampai kadang saya berpikir, "Anak saya ini aktif atau hiperaktif ya?". Heheheheee ... karena selain susah diajak duduk tenang, dia juga tidak menyukai instruksi dan ketika sedang fokus terhadap sesuatu, saya harus berulang kali memanggilnya sebelum akhirnya ia menyadari dan menoleh. Ini menjadi PR saya juga nih.
Kali ini saya tidak ingin membahas mengenai Kelas Musik yang Aisyah ikuti karena kan baru kurang lebih sejam pertemuan ia jalani, tetapi saya ingin bahas mengenai karakternya Aisyah lebih dalam. Apakah ia aktif biasa atau ADHD alias Attention Deficit Hyperactivity Disorder?

Berdasarkan artikel yang saya baca disini ... anak dengan ADHD ini tipikal yang sering melamun sehingga susah fokus dengan apa yang dikatakan kepada mereka, sangat mudah meninggalkan pekerjaan mereka (cepat bosan), cuek dan mengikuti peraturan sendiri alias tidak mau mengikuti instruksi (disorganized), selain itu juga pelupa sehingga sering sekali kehilangan barang-barang miliknya.

Kok tipis banget perbedaannya dengan Aisyah ya? Tapi kalau Aisyah ingatannya cukup kuat untuk anak seusianya (eh, ada sih yang sering lupa, kalau dia terluka dan saya bertanya, ia susah menunjukkan dimana ia mendapat luka gores tersebut, dan sering sekali ia tiba-tiba datang dengan luka gores di kakinya karena keaktifannya), hanya saja ia susah memahami pertanyaan dan tidak fokus jika sedang dipanggil. Ia cenderung cuek dan asik dengan aktivitasnya sehingga harus berulang kali dengan suara yang keras barulah ia menoleh. Aisyah juga tidak menyukai instruksi, itu juga sebabnya saya agak kesulitan di setiap kursus untuk mengamati ketertarikannya, tetapi di rumah lebih kesulitan lagi karena Aisyah sama sekali tidak patuh dan membantah semua instruksi dari saya.

Berlari dan memanjat di tempat yang tidak semestinya seperti ciri-ciri anak ADHD ya juga selalu Aisyah lakukan. Dulu waktu ia masih berusia 2 tahun, saya akan sangat kesulitan ketika berada di mall, ia selalu sengaja berlari ke arah escalator dan saat saya berhasil menangkapnya, ia langsung mengamuk di depan escalator turun sehingga menghalangi/membuat macet orang-orang yang akan lewat. Itu masa-masa tantrumnya. Meskipun sudah ngga separah dulu, namun Aisyah masih suka berlari dan berharap saya mengejarnya, setelah saya menangkapnya dan menggendongnya, ia langsung meronta dalam gendongan saya sembari mengamuk dan memukul-mukul dada saya.

Oh iya, kalau untuk mengoceh tiada henti, sejak ia masih berusia satu tahun, ia sudah senang berbicara, bukan khas anak kecil melainkan berinteraksi langsung dengan setiap orang yang ia ajak bicara dengan bahasa yang sama sekali tidak jelas, bahkan hingga kini jika ia berusaha ngomong dengan cepat, ia akan mencampurnya dengan bahasa yang tidak ada artinya, sehingga butuh sekali peran aktif saya dan orang-orang di sekitarnya untuk langsung tanggap dan berusaha mengerti apa yang ia maksud.

Apa saya sudah harus bawa Aisyah ke dokter atau klinik psikologi ya? Kalau mengenai Aisyah suka berbicara sembarang sih, sejak usia 2 tahun sudah disuruh Mami saya bawa ke klinik untuk konsultasi, tapi saya tidak mau dan selalu berkata bahwa itu normal. Dia kan sedang berbicara, tapi karena belum tahu banyak kosakata, ya dia sembarang menyebutkan saja, dalih saya.

Heheheee, duh kok sekarang malah galau saya, ... trus kalau dinyatakan ADHD dan disuruh terapi terus, berarti ada budget yang dikeluarkan lagi untuk terapi. Kalau feeling saya sih dia tidak ADHD karena masih bisa dikendalikan kadang-kadang, misalnya saya terluka dia akan langsung respek dan meniup tangan saya kemudian berusaha mencari obat atau plester di laci-laci kamar. Cuman yang bikin galau saya adalah kesulitan saya untuk memberikannya instruksi karena ia memilih membantah dan tidak melakukan instruksi saya.

Duh budget saya terbatas untuk itu, tetapi kalau tidak ada jalan lain ya apa boleh buat. Selama Aisyah masih bisa dikendalikan oleh saya, akan berusaha terapi sendiri, namun ternyata terapi saja tidak cukup loh, saya harus memperhatikan makanan yang ia konsumsi. Sudah sejak lama saya dengar bahwa konsumsi makanan yang tinggi kandungan gula, berpotensi anak menjadi luar biasa aktif, dan untuk mengendalikan keaktifannya adalah mengurangi anak mengkonsumsi permen dan coklat berlebihan.

Nah, baru-baru ini saya searching mengenai itu, dan ternyata betul saja, bahkan anak ADHD terapinya adalah dengan mengadakan Diet CFGFSF (Casein Free, Gluten Free, Sugar Free) total alias 100% tanpa boleh ada kebocoran. Disamping itu juga tidak boleh konsumsi kedelai dan jagung, serta menghindari buah dan sayur yang kadar fenolnya tinggi (seperti tomat, apel, kacang tanah, anggur merah, coklat, jeruk, pisang, apricots, berries, cherries, nanas, lada, mint, peach, adas, zaitun, mangga, semangka, brokoli, bayam, pear, wortel, kentang); jangan mengkonsumsi bahan pewarna, pengawet, perasa, penyedap makanan/masakan; jangan menggunakan obat yang mengandung parasetamol, asetosal/salisilat, pseudoephedrin; jangan memasak dengan panci atau bahan alumunium lainnya; jangan ada yang merokok di rumah, gunakan penyaring udara di rumah; jangan menggunakan alat makan dari plastik atau melamine di rumah (gunakan bahan gelas, keramik, stainless steels; jangan menggunakan bahan-bahan toksik/kimia di lingkungan rumah (deodorant, hair spray, minyak wangi, pewangi dan pelembut pakaian); gunakan bahan makanan organik dengan melakukan R&E Diet (Rotation dan Elemination Diet), serta bahan makanan yang diperkenankan (cleaning up the gut, healing the gut, antibiotik, obat anti jamur, flora usus (ada dalam saran suplemen); dsb, untuk lebih lengkapnya bisa dibaca disini ya karena lebih rinci dijelaskan terapi dan pengobatan bagi anak ADHD dan autisme.

Berhubung saya masih merasa Aisyah hanya anak yang aktif biasa dengan emosi yang meledak-ledak tetapi bukan pengidap ADHD apalagi autisme, saya berencana mengadopsi beberapa (hanya beberapa) pantangan untuk anak dengan ADHD maupun autisme agar bisa diterapkan juga terhadap Aisyah.

Di atas itu terdapat Diet CFGFSF, yaitu:
1. Casein Free
Apa sih Casein itu? Casein itu adalah protein yang terdapat di dalam susu, yang kandungannya adalah 80% berada di dalam susu, sedangkan 20% nya lagi adalah Protein Whey.
Duh ini jujur agak susah ya untuk diterapkan pada Aisyah, jadi saya rasa ini tidak akan dijalankan dulu. Saya tidak mungkin mengambil hak Aisyah untuk mengkonsumsi susu, karena yang paling ia sukai adalah susu, bahkan kalau mau tidur pun harus meminum susu.
Tapi kalau untuk keju, insyaAllah tidak saya berikan.
2. Gluten Free
Gluten ini adalah tepung-tepungan yang berasal dari biji-bijian (protein), mungkin begitu kali ya istilahnya, heheheee, tolong dikoreksi jika salah. Dengan kata lain berarti Aisyah harus diet roti (karena terbuat dari tepung gandum). InsyaAllah bisa!
3. Sugar Free
Sudah tau kan Sugar? 'Jhony Jhony ... yes Papa ... eating SUGAR ... no Papa ... telling lies ... no Papa... open your mouth ... hahaha ...'
Heheheee, yuppp gula! kalau ini insyaAllah mau saya jalankan 100%. Terutama menganti susu Aisyah dengan UHT murni (tentu saja bukan yang full cream), bebaskan dia dari permen, coklat, dan ice cream ... lupakan cake dan donat. Bismillah ... semoga bisa.

Syukur banget Aisyah tidak menyukai sayur-sayuran dan buah-buahan sehingga bagi saya untuk diet fenol ini sih ngga gitu masalah, tapi susah juga ya kalau dia ngga dapat serat sayur atau buah sama sekali, sedangkan untuk buah yang ia minati hanya sedikit sekali, terutama semangka, buah yang paling ia sukai. Untuk buah mungkin tetap saya berikan semangka tapi ya kan tidak sering juga, ketika ia ingin ya saya kasih. Begitupun dengan pisang. Lagipula saya jarang stok buah di rumah, apalagi sayur, emaknya juga ngga doyan sayur soalnya.

Nah, untuk bahan pengawet, pewarna, perasa, penyedap rasa, dsb saya usahakan untuk diet 100%. Harus mulai dengan emaknya nih yang lidahnya sudah lidah fetsin. Yang jelas say goodbye sama softdrink dan segala macam snack serta biskuit kemasan.

Kalau untuk masak tanpa panci atau alat alumunium lainnya agak susah ya karena di rumah pakai alumunium semua, tapi ntar deh dicoba cari yang bukan bahan alumunium, ... ini juga masih bisa dihindari. Prinsip saya selama bisa dihindari ya dihindari saja, toh demi anak kan?

Deodorant sepertinya tetap saya pakai, yang ngga pakai pewangi tentunya, parfum dsb mungkin saya hentikan juga agar tidak tercium sama Aisyah. Deterjen bajunya balik ke yang awal deh, yang ngga pakai pewangi. Harus rajin-rajin bawa ke taman nih pada pagi hari agar doi mendapat udara yang segar dan bersih setiap harinya. Bismillah, mulai besok yaa Aisyah? Trus harus jauh-jauh dari perokok, JiPi dan uncle nya nih parah banget kalau merokok. Ntar mau cari tanaman lidah mertua juga untuk saring udara. Yang jelas ngga boleh ke warnet Daddynya nih, polusinya ampun-ampun di sana.

Trus saya kebiasaan kasih Aisyah gelas plastik dsb, dengan tujuan agar tidak pecah, duh ternyata tidak boleh, baiklahhh ... kita pakai gelas kaca atau keramik ya Aisyah mulai hari ini, semangat!

Eh ada lagi nih yang dinamakan R&E Diet, apa itu ya? Yuk kita bahas di sini. R&E itu adalah kepanjangan dari Rotation and Elemination yaitu putaran dan penghapusan, bisa dibilang diet keseimbangan yang  dikhususkan untuk anak ADHD dan autisme mungkin ya, perlu ahli gizi untuk konsultasi ini lebih lanjut. Tapi kalau bagi Aisyah, ya akan saya terapkan berdasarkan apa yang tidak boleh dan apa yang boleh saja, untuk mengendalikan emosinya. Lagipula hidup lebih sehat kan dengan Diet Keseimbangan begini.

Anggur hijau diperbolehkan kok, manggis, sirsak, leci, sawo, lengkeng, jambu biji ... wow, malahan buah kesukaan saya semua ... lengkeng adalah buah yang paling Aisyah sukai, semoga anggur hijau dia juga suka, jadi saya bisa mengesampingkan kesukaannya akan semangka. Kalau melon dan pepaya dia tidak suka soalnya. Tetapi sekali lagi harus berdasarkan R&E Dietnya ya atau keseimbangannya. Misalnya ayam goreng, nasi, anggur, dengan porsi pas, tidak berlebihan.

Anak ADHD dan autisme juga harus diperhatikan kesehatan ususnya. Kalau papa saya sih pernah bilang suruh kurangi garam dalam makanan saya (saya suka sekali soto Banjar, dan lidah saya selalu merasa kurang asin sehingga saya pasti tambah garam). Kata papa saya garam berlebihan berbahaya bagi usus, malah bisa berpotensi kanker usus, duh naudzubillahi min dzalik. Jadi untuk menjaga kesehatan usus Aisyah, saya akan kurangi garam dalam makanannya. Mungkin Aisyah belum perlu suplemen khusus, tapi saya rasa tetap harus melakukan perubahan yang tidak baik dalam hidupnya, dengan cara alami dulu tentunya.

Sementara libur juga makan jagung dan minum susu kedelai tentunya, dua makanan yang disukai Aisyah. Biasa kalau jalan daripada ribet bawa susunya, saya bawa susu kedelai kemasan agar mudah dituang ke dalam botolnya, tetapi tampaknya saya harus merubah cara itu, karena ternyata bisa membuat ia menjadi lebih susah diatur.

Bismillah ... semangat yaaa Mommy Keceh ... jalan kita masih panjang. Mulai deh diet keseimbangan dan terapi kecil bagi yang anaknya aktif dan cukup susah diatur seperti Aisyah. Jangan lupa selalu menyelipkan sugesti positif kepadanya sebelum ia tidur. Kalau yang satu ini sudah sering saya lakukan ketika saya mengeloninya untuk tidur.

Semoga anak-anak kita bisa menjadi calon penerus bangsa yang berkualitas, aamiin yaa Rabbal a'lamiin.




Comments