Skip to main content

Langit biru saya bersama Pertamina #GenLangitBiru

Manusia lahir dengan harapan.
Manusia hidup penuh harapan.
Manusia besar karena harapan.
Manusia mati meninggalkan harapan ...
Harapan untuk menjadikan dunia lebih maju.
Harapan akan masa depan generasi bangsa yang jauh lebih baik.
Generasi langit biru adalah generasi millenial yang lebih mementingkan kualitas hidup untuk masa depan lebih baik.
Langit biru yang tinggi ... terbentang luas di angkasa ... tak terjangkau tangan manusia ... ibarat sebuah harapan ... asa yang belum tentu diraih, tetapi memilikinya membuat setiap orang hidup dengan kualitas baik sepanjang hari.
Aisyah, bocah perempuan berusia 3 tahun, pelengkap diri saya. Kehadirannya dalam hidup lebih dari tiga tahun silam, telah mewujudkan harapan utama saya sebagai wanita, yaitu menjadi seorang ibu, kemudian melahirkan harapan-harapan baru, karena dialah generasi langit biru itu, penerima hak untuk bernafas lebih bebas, menggenggam mimpi lebih erat, dan memiliki hidup lebih baik.
Aisyah selalu berkata kepada saya, "Mami, Aisyah big! Look!" (Sambil berdiri dan membusungkan dadanya, dia memang agak 'tomboi', tokoh favorite nya saja Super Heroes).
"Aisyah tall too, like giraffe!" (Bukan mengada-ada, tetapi dia memang berbicara secara billingual, karena ketika dia masih berusia 2 tahun dimana belum mengenal banyak kosakata bahasa sehari-hari, saya memasukkannya ke kelas bermain di PAUD dua bahasa).
Seorang balita seusianya, sudah dapat menentukan harapan akan masa depan. Dia berharap menjadi lebih besar dan jauh lebih tinggi dari saya, ... bahkan jika memungkinkan dia ingin bisa terbang seperti Bat Man, ingin bisa memanjat mengeluarkan jaring-jaring dari telapak tangannya seperti Spider Man, ... dia tahu bahwa para tokoh memiliki kelebihan seperti itu untuk menyelamatkan penduduk kota, karena Aisyah memiliki jiwa penolong, dibalik sikapnya yang cenderung meniru lelaki terdapat kelembutan yaitu jiwa penyayang terhadap sesama, dia berharap semua orang di sekitarnya dapat hidup dengan baik. Sama hal nya saya menginginkan Aisyah kelak memiliki dunia yang baik, lingkungan yang 'bersih', serta kebebasan berekspresi dalam meraih cita.
Ketika saya sedih dia selalu berkata, "Tidak apa Mami, ada Aisyah. Mami Sad, Aisyah sad. Mami happy, Aisyah happy. Mami angry, Aisyah sad." (Seolah 3 kalimat ekspresi itu sudah tertanam dalam bawah sadarnya ketika berhadapan dengan seseorang, terutama terhadap saya).
Saat saya berkata bahwa saya sedang sakit, dia akan sibuk mencari minyak kayu putih atau obat gosok lainnya untuk membalur perut saya meskipun belum mengetahui saya sakit apa. Kalau ditanya ingin menjadi apa, dia pasti berkata ingin menjadi dokter, mungkin karena sering menonton film kartun tokoh 'dokter' spesialis boneka (baca; dokter-dokteran) yang banyak menolong boneka 'sakit' (baca: rusak).
Setiap Generasi Millenial sudah memiliki harapan-harapan bahkan di usia yang masih sangat belia, menyampaikan asa dengan cara sederhana yang sebagian hanya dimengerti oleh orang tua masing-masing untuk membantu mewujudkan impiannya.
Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap - Jawa Tengah sedang mengusung sebuah proyek pembangunan kilang minyak terbesar se-Asia Tenggara yang diberi nama Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC). Tujuan Pertamina melaksanakan pembangunan adalah untuk meningkatkan kualitas BBM dari Premium (RON 88) menjadi Pertamax (RON 92).
Pemberian nama Proyek Langit Biru bermakna peningkatan kualitas BBM yang lebih ramah lingkungan sehingga kualitas udara terjaga, lebih sehat, dan langitpun tetap biru, demi menuju masa depan yang cerah, optimis, dan penuh dengan harapan-harapan baru, layaknya orang tua yang menginginkan hidup anaknya lebih terjamin. Sesuai dengan persepsi saya pribadi terhadap 'langit biru' itu sendiri.
Kita semua bernaung di bawah langit biru, yang memelihara hujan namun menciptakan pelangi, setiap orang yang hidup tergantung pada sebuah harapan, dimana akan membawa ke arah masa depan yang cemerlang. Sebagai generasi pendahulu, saya adalah 'langit biru' bagi Aisyah, dia mempercayakan kelangsungan hidup dan masa depannya kepada saya, ibunya. Tak menyia-nyiakan maksudnya, beban itu sudah ada pada pundak saya sejak ia baru dilahirkan, dan tentu selalu saya bawa dengan hati tulus ikhlas sembari mengiringi langkah kakinya, hingga kelak ia dapat 'berdiri' dan 'melangkah' sendiri.
Begitupun dengan Pertamina, ia mengemban tugas yang sangat berat, tetapi pantang menyerah, untuk menyelamatkan bumi pertiwi dari penurunan kualitas udara yang dihirup setiap insannya, mencegah langit biru yang nyaris redup, menghidupkan kembali asa yang sempat terkubur, serta mengantarkan putera-puteri bangsa menggenggam cita dan cinta hingga turun-temurun.

Comments

  1. so sweet, manis tulisannya. Meresap kuat. Memang begitulah langit biru

    ReplyDelete
  2. inspiring plus ngena di hati mak hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihiii, salam kenal Mak, tulisan ala emak-emak banget yakkk.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pertama kali ke dokter gigi anak (di Balikpapan)

Ide pergi ke dokter gigi anak tercetus ketika ponakkan saya mengalami sakit gigi yang sangat parah. Tetapi malang sekali karena dia merasakannya seminggu menjelang hari raya Idul Fitri, dimana para dokter mengambil cuti guna menyambut hari raya.

Sebelumnya kami sudah melakukan pencarian nama-nama dan tempat praktek dokter gigi anak di Kota Balikpapan, kemudian menemukan nama drg Evi yang beralamatkan di Wika. Namun ketika mami saya berkunjung ke sana membawa Sachio, ponakkan saya tersebut, rumahnya kosong, sehingga mencoba mencari alternatif lainnya.

Kami menemukan nama drg Helsa yang mana spesialis gigi anak recommended juga di Kota Balikpapan, dan alhamdulillah praktek di klinik dekat rumah saya. Saya memutuskan untuk ikut memeriksakan gigi Aisyah sekalian.

Artis cilik Balikpapan 90-an yang sukses di Jakarta (Merpati Putih Balikpapan)

Balikpapan, salah satu sudut Benua Etam, terkenal dengan gadis-gadisnya yang rupawan, penuh prestasi pula. Dari model catwalk, photo model, sampai penyanyi ada di Kota ini. Terutama bagi generasi 90-an, banyak artis perempuan Balikpapan pada masa itu yang kini telah hijrah dan sukses di Ibu Kota. Siapa saja sih? Yuk kita simak, sekalian mengenang masa mereka ngetop di kota tercinta kita ini.
1. Jenifer Arnelita

Awalnya Jennifer Arnelita terkenal sebagai artis penyanyi cilik dan model remaja di Kota Balikpapan, hingga akhirnya ia terpilih menjadi bintang iklan salah satu produk perawatan tubuh remaja dan mengharuskannya hijrah ke Jakarta. Saat itu, ia masih duduk di kelas 2 SMP Negeri 1 Balikpapan. Di Ibu Kota, nama Jennifer semakin terkenal, beberapa FTV dan sinetron pun ia bintangi bersama artis-artis kawakan Indonesia, seperti Meriam Belina. Artis kelahiran Balikpapan 17 Desember 1984 ini telah menikah sejak pertengahan tahun 2015 dan kini disibukan dengan kegiatannya merawat buah …

Transformasi para pemain "Jangan Ambil Nyawaku" 1981 VS 2017. Nomor 6 romantis!

Baru-baru ini sebuah stasiun tevevisi swasta yang khusus menayangkan film-film tempo doeloe memutar sebuah film yang dibuat dengan sangat profesional dan serius, para pemainnya pun orang-orang senior yang bergelut di dunia theatre dan masih memiliki nama besar hingga kini, berjudul 'Jangan Ambil Nyawaku'.
Film tersebut berkisah tentang sebuah keluarga Batak yang harmonis, suami istri romantis, anak-anak yang manis, namun harus harus menghadapi cobaan yang berat yaitu si ibu menderita kanker rahim, dan harus terus melakukan kemoterapi, sementara sang ayah pun harus terapi mengobati impotensi karena stres, keluarga mendadak dirundung duka. Kisah ini diambil dari kisah nyata yang dinovelkan.
Para pemain pada film tersebut adalah Frans Tumbuan sebagai ayah, Lenny Marlina sebagai ibu, Ria Irawan sebagai anak tertua, Nunu Datau sebagai anak kedua, dan Hendra Saputra sebagai anak bungsu. Film yang disutradarai oleh Sophan Sophiaan ini juga menghadirkan Zainal Abidin sebagai dokter, …