Skip to main content

CerPen : Cinta di kala Subuh (Oleh: Annisa Tang)

Cinta di kala Subuh
Oleh: Annisa Tang

Langit sedang menunjukkan kuasa, gemuruh suara amarahnya terdengar menggelegar, seolah ingin menelan bumi dan segala isinya. Angin tidak mau kalah, menyerang Pohon Bintaro yang berdiri tegak, membuat ranting dan daunnya terayun kian kemari, sesekali terdengar suara klentingan, buahnya yang jatuh bergantian di atas mobil yang terparkir di pinggir jalan. Awan mulai menangis membasahi bumi pertiwi.
Sayup-sayup adzan berkumandang, nyaris tak terdengar, namun Gilang, pemuda paling tampan di kampung, anak seorang ustadz yang disegani, lagi kaya dan soleh, tidak pernah melewatkan untuk Solat Subuh di masjid dekat rumahnya. Ia salah seorang yang cukup beruntung memiliki rumah tak jauh dari tempat ibadah, tapi bukan hanya dia, beberapa pemuda lainnya pun ada yang bertempat tinggal tidak jauh dari masjid, bahkan tepat di sebelah, hanya Gilang seorang yang tak pernah luput meninggalkan Shalat Subhu berjamaah.
Meskipun hujan sedang mengguyur, walau petir menyambar dan angin bergulung-gulung segera menjelma menjadi badai yang luar biasa menakutkan bagi sebagian orang, belum lagi dinginnya cuaca yang sebagian lagi memutuskan untuk melanjutkan tidurnya hingga pagi menjelang, Gilang tetap melangkah dengan pasti keluar rumah.

A Ai, gadis berkulit putih dan bermata sipit, rambut sebahu dengan poni rata di atas alisnya, kemerah-merahan jika disiram cahaya mentari yang terik, membuat ia semakin ‘amoy’, kala itu tengah gelisah di jendela rumahnya. Hujan tak ada tanda akan berhenti. Sedangkan ia, biasa pergi ke Pasar Subuh untuk membeli sayuran dan daging, keperluan warung makan milik ayahnya yang terkenal dengan sebutan Koh Awie.
Pasar Subuh melewati Masjid Al Huda, tempat Gilang biasa beribadah. A Ai adalah non muslim, ia bersembahyang di Klenteng, penganut Kong Hu Chu. Ketika kembali dari pasar, ia selalu berpapasan dengan Gilang, sang pria idola. Meski tidak bertegur sapa, bahkan Gilang sama sekali tidak menoleh kepadanya, namun ia menaruh rasa kagum terhadap Gilang.
Wajar, pikirnya selalu, Gilang anak orang kaya, sedangkan ia hanyalah seorang anak pemilik depot nasi goreng. Seperti pungguk merindukan bulan, jika ia berharap Gilang dapat menjadi temannya, apalagi lebih dari itu.

“Hujan sudah tinggal rintik, yuu pergilah beli sayur, sayang kalau depot libur, biar ai siap-siap buka.” Awie membuyarkan lamunan Ai. Ia hanya tinggal berdua dengan papanya itu, sang ibu sudah lama pergi dengan pria lain, dan tak pernah sekalipun datang menjenguk.
A Phei, ibunya, adalah wanita Tionghoa modern, berdandan dan bergaya, sedangkan Awie seorang yang ‘bleke’, berpakaian sesukanya, kaos oblong dan celana selutut adalah busana kebangsaannya, kemana-mana dengan vespa butut, membuat A Phei malu dan tidak betah bersamanya.
A Ai melirik jam di dinding, sudah hampir pukul 6 pagi, ia bergegas mengambil payung dan keluar rumah, berjalan tergopoh-gopoh sehingga lupa mempertahankan diri ketika berpapasan dengan angin, payung terlepas dari genggamannya.
“Aduh!” Pekiknya terkejut.
Ia hanya bisa menatap si payung rainbow terbang meliuk-liuk, terhuyung-huyung, berayunkan angin lalu jatuh dan terseret-seret di aspal, sebelum akhirnya berhenti.
Si kaki jenjang adalah pemberhentian terakhir payung, karena menghalangi angin untuk terus menyeretnya.
A Ai tertegun sejenak sebelum akhirnya menyadari si pemilik kaki. Gilang, ia selalu berjodoh bertemu di kala subuh hingga menjelang pagi dengan pemuda itu. Meskipun alam seolah menghalangi, tetapi takdir tetap mempertemukan.
Gilang memungut tangkai payung itu dan menghampiri A Ai, melindunginya dari rintik. “Ini milikmu?”
A Ai mengangguk tersipu. Ini kali pertama Gilang menegurnya.
“Sepertinya setiap subuh kamu keluar rumah.” Singkat namun cukup membuat A Ai terkesima.
Ternyata Gilang selama ini juga sadar dengan kehadirannya.
“Ya, aa … aku anaknya Awie yang punya Depot 36 di ujung jalan itu.” Gugup terdengar jelas.
“Oh.” Gilang tersenyum, tidak lepas namun membuatnya semakin menarik.
A Ai teringat sesuatu, dan langsung mengambil alih si payung dari genggaman Gilang, kemudian berbalik dan berlari. “Maaf, aku sedang buru-buru, papa menungguku belanja.”
“Tunggu!” Gilang berteriak, tidak seperti biasa, membuat A Ai menghentikan langkahnya sekali lagi.
“Maaf, boleh aku bertanya satu hal?” Gilang agak ragu menyampaikan maksudnya.
A Ai mengernyitkan keningnya tak mengerti.
“Hmm, apa kamu berjualan makanan Halal?”
Lalu ia tersenyum dan mengangguk, merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaan Gilang. “Tentu saja, kami orang Tiong hoa jujur dalam berjualan dan menomor-satukan pelanggan.”
Gilang melambaikan tangannya, memberi isyarat bahwa ia tidak akan bertanya lebih banyak lagi.

Pagi hari masih sepi pelanggan di depot milik Awie, A Ai menghabiskan waktunya untuk termenung seorang diri sambil sesekali tersenyum simpul.
“Yuu kenapa senyum-senyum begitu, hayyaaahh, lagi jatuh cinta ya yuu? Sama siapa? Aaa ai tau, pasti sama si Aseng yang satu klenteng sama kita itu, hayyaaahhh, yu liat saja dia punya bapak, macam preman kalau bicara, janganlah sama dia. Ai tau dia demen sama yu, tapi yu tidak usahlah. Nanti biar ai carikan jodoh yang tepat, yuu masih 19 tahun belum perawan tua, buru-buru apa, tidak usah cepat-cepat juga tak apa.”
Awie memang seperti itu, kalau berbicara susah berhenti, apalagi jika menyangkut atau menasehati anak perempuan semata wayangnya itu. Awie belum pernah menikah lagi usai ditinggal oleh A Phei.
A Ai memanyunkan bibirnya. “Papa apaan sih. Aseng Aseng … mana mau Ai sama dia, matanya saja mata genit. Lihat paha saja meleng.”
“Bagus…bagus kalau yuu tau. Kalau yuuu mau, sama anaknya Susuk Ahok tuh, sekarang sudah punya restoran yang besar, anaknya yang kelola. Bagus yuu jadi nyonya pemilik restoran.”
Belum sempat A Ai membantah, terdengar suara yang familiar di telinganya.
“Permisi… apa depotnya sudah buka?”
A Ai melirik ke arah asal suara, dan benar saja! Gilang. Pantesan tadi ia sempat bertanya perihal masakan mereka, pikir A Ai.
“Ah yuu, mari-mari masuk, depot ai buka paling pagi. Emmm, ai tau yuu, yu anaknya pak haji yang rumahnya dekat dengan masjid kan? Yuu tenang saja, masakan ai di sini non babi, kami pun tidak makan babi sudah lebih dari 5 tahun, bukan karena haram, tapi mahal.” Setengah terkekek. Awie biasa berbicara tanpa terkontrol, bermaksud bercanda.
“Auww!” Setengah berteriak akibat injakan mesra anak tercintanya. A Ai selalu merasa malu jika papanya terlalu banyak berbicara, apalagi di depan Gilang, pujaan hatinya selama ini.
A Ai menatap lirih kepada sang papa, memberi kode agar lebih banyak diam, Awie mulai mengerti maksud anaknya.

“Tidak salah yu suka sama anaknya Pak Ustadz itu? Dia kan berbeda dengan kita sembahyangnya?” Tegor Awie ketika menyadari bahwa anak perempuannya telah jatuh hati kepada pemuda muslim.
“Kalau Papa tidak keberatan, Ai rela membuatnya menjadi sama, tidak berbeda lagi.” A Ai khawatir dengan respon yang akan ditunjukkan oleh papanya sehingga hanya menundukkan kepala setelah berkata.
“Hayyaaahhh!” Awie menepok jidatnya sendiri. “Nanti siapa yang sembahyangkan ai kalau sudah mati?”
“Paa, ini kemauan Thian. Ai selalu bertemu dia ketika pergi ke Pasar Subhu, bahkan saat Ai telat pergi karena hujan. Sudah takdir.”
Awie mengurut-urut dadanya yang masih terkejut dengan jalan yang akan ditempuh oleh anak semata wayangnya. “Jika ini memang keinginan Thian, ai hanya bisa merestui.”

            "Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh." Dipandu langsung oleh Ustadz Zakir, ayahanda Gilang.
"Allaahumma tsabbithu waj’alhu haadiyan wa mahdiyyan.” Saat itu Gilang juga menghadiri prosesi A Ai menjadi seorang mualaf. Hanya saja, Awie tidak bisa datang karena masih berpegang teguh dengan keyakinannya, tetapi ia sepenuhnya memberi ijin kepada A Ai untuk menentukan jalan hidupnya.
A Ai pun belum berharap banyak terhadap Gilang, karena selama ini ia masih menyimpan perasaannya saja. Menjadi mualaf pun adalah kerelaan hatinya, tanpa paksaan dari orang lain, selama ini ia kagum dengan Gilang yang konsisten solat 5 waktu, dan rela jalan ke masjid ketika subhu untuk beribadah. A Ai pernah tanpa sengaja membaca buku seorang temannya yang beragama Islam bahwa solatnya orang yang tidak munafik adalah di waktu subhu. Sejak saat itu dia sangat yakin bahwa Gilang adalah pria yang baik.

            Subuh kali ini cerah, tidak nampak akan turun hujan, tetapi semilir angin yang mencuri masuk lewat lengan jaketnya, kemudian bak bermain labirin menari di sela rambut halus yang menutupi kulit, tetap membuatnya merasanya kedinginan. Syukurlah kali ini ia berpikir untuk mengenakan jaket, lumayan meredakan tubuhnya yang menggigil.
A Ai mulai melaksanakan sebagian kewajibannya sebagai seorang muslimah, yaitu menutup aurat. Tetapi karena masih belum menukar pakaian lamanya dengan yang baru, ia tidak punya cukup pakaian yang tertutup sehingga memutuskan menggunakan jaket. Ia berhenti sejenak untuk memasang hoodie melindungi leher dan kepalanya dari terpaan badai.
“Aisyah Cinta Ramadhani.” Seseorang menghampiri A Ai secara tiba-tiba. Gilang.
A Ai tertegun kemudian tersipu.
“Namaku Gilang Ramadhan. Aku ingin namaku menjadi bagian dari namamu, meski ini bukan bulan Ramadhan.”
Gilang menarik nafas, tanda ia sudah terlalu banyak berpikir, belum tentu A Ai setuju.
A Ai mengernyitkan keningnya, tidak mengerti. “Kenapa harus Aisyah Cinta?”
“Karena panggilanmu selama ini adalah Ai, agar tidak terlalu banyak perubahan, maka jadilah Aisyah. Dan, aku tidak tahu arti namamu selama ini apa, tapi yang kutahu Wo Ai Ni adalah bahasa yang sudah sangat umum dikenal di Indonesia, Ai artinya Cinta.”
A Ai tertawa kecil. “Lalu kenapa harus ada Ramadhani biar mirip?”
“Hmm.” Gilang diam sambil sesekali melirik ke atas seolah sedang berpikir.
“Karena aku ingin kamu menjadi Nyonya Ramadhan. Aku rasa kamu pasti butuh imam untuk belajar menjadi seorang muslim.”

Tak memberi waktu Ai untuk memahami perkataan Gilang, apalagi untuk menjawab. Whuzzz!!! Angin kembali berhembus kencang, menggugurkan dedaunan Bintaro, menambah suasana subuh yang romantis.

Sumber Foto: http://www.naataudio.com/mp3/as-subhu-bada-min-tala-atihi-47

Comments

  1. Kalau saya nggak pinter koreksi, lagian ngapain dikoreksi. Mending ambil kisah indahnya saja. Oya, kecuali subhu yang saya kira subuh.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

OTW Food Street Balikpapan, Tempat Nongkrong Tergres!

Sudah menjadi rahasia umum di kota minyak ini bahwa resto atau kafe yang baru buka selalu ramai pengunjung. Sebagian besar warga  berbondong-bondong datang, sekedar penasaran dengan 'rasa' yang disajikan baik berkaitan dengan makanan maupun suasana di tempat tersebut, atau sekedar 'ngehits' jepret sekali untuk keperluan sosmed, khususnya instagram, kemudian tidak menjadikannya kunjungan yang 'berulang'.
Baru-baru ini dibuka kafe baru di seberang taman Wiluyo Puspoyudho bernama OTW Food Street. Ramai pemberitaan di media Facebook membuat netizen yang berada di kota balikpapan beramai-ramai untuk datang.
OTW Food Street adalah sebuah kafe yang mengusung tema food court, mengetahui menu yang akan dipesan terlebih dahulu kemudian menuju counter pemesanan langsung untuk sekaligus melakukan pembayaran, kemudian makanan akan diantar oleh pelayan yang ditunjuk. Counter makanan, minuman, dan martabak pun terpisah. Martabak sengaja diberi counter tepat di luar samping par…

Pertama kali ke dokter gigi anak (di Balikpapan)

Ide pergi ke dokter gigi anak tercetus ketika ponakkan saya mengalami sakit gigi yang sangat parah. Tetapi malang sekali karena dia merasakannya seminggu menjelang hari raya Idul Fitri, dimana para dokter mengambil cuti guna menyambut hari raya.

Sebelumnya kami sudah melakukan pencarian nama-nama dan tempat praktek dokter gigi anak di Kota Balikpapan, kemudian menemukan nama drg Evi yang beralamatkan di Wika. Namun ketika mami saya berkunjung ke sana membawa Sachio, ponakkan saya tersebut, rumahnya kosong, sehingga mencoba mencari alternatif lainnya.

Kami menemukan nama drg Helsa yang mana spesialis gigi anak recommended juga di Kota Balikpapan, dan alhamdulillah praktek di klinik dekat rumah saya. Saya memutuskan untuk ikut memeriksakan gigi Aisyah sekalian.

Homeschooling memetakan potensi anak

Halo,

Ketemu lagi dengan Mami Keceh ... jangan bosan-bosan yaa ... ^_*

Aisyah sudah liburan menjelang hari raya nih Moms, sekaligus memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi bermain di Paud. Awalnya merasa sayang banget karena Aisyah banyak sekali perkembangannya di Paud tersebut, disamping itu guru-gurunya baik-baik banget lagi. Orang tua murid pun asyik-asyik semua, teman-teman Aisyah juga ngga ada yang kasar-kasar baik dari segi bahasa maupun sikap. Lingkungannya kompeten untuk anak-anak usia dini yang mudah meniru. Bukan hanya Aisyah yang betah, tapi Maminya pun betah karena bagi ibu-ibu yang belum sepenuhnya tega meninggalkan buah hatinya, ada ruang tunggu khusus Moms yang dilengkapi wifi dan CCTV keadaan anak-anak di kelas. Satu kelas hanya berisi 10 murid. Ini recommended school dari saya (bagi para orang tua yang masih belum ada gambaran mengenai Homeschooling danbelum siapkan kurikulum yang tepat untuk buah hati). Langsung melakukan observation saja Moms diSBC Learning Center (…