Filosofi anjing kampung vs shitzu (ras) dalam dunia.

Sumber: http://www.satuharapan.com/read-detail/read/depp-pulangkan-anjing-patuhi-pemerintah-australia

Tersebutlah seekor anjing kampung, berjalan kian kemari, terhuyung-huyung, berharap setetes air dapat mengobati dahaganya meski hanya berasal dari embun pagi hari. Harapan kosong, karena embun telah kering pada dedaunan, terserang teriknya mentari yang berkuasa tepat di atas kepala.

Seekor anjing ras jenis shitzu dengan kalung di lehernya dan rantai yang panjang, berjalan sangat anggunnya mengikuti sang majikan. Usai makan siang, saatnya mengunjungi taman guna menurunkan sisa makanan sekaligus memamerkan bulu-bulunya yang indah.

Si kampung memelas kepada shitzu, terlihat jelas iri pada wajahnya, dua jenis hewan yang sama namun berbeda rupa dan juga nasib.

Tuan yang baik, menuangkan air minum pada botolnya ke dalam kaleng bekas yang teronggok di sudut taman, membuat si kampung yang kehausan memberanikan diri mendekat. Tak butuh waktu lama untuk membuat kaleng kembali kosong, karena dia yang ketohoran.

Sejak saat itu ia mengikuti si tuan, meski harus menjilat dan mencium kaki tuannya setiap hari guna mendapatkan sepotong tulang.

Shitzu yang anggun, tak suka memperebutkan sesuatu, duduk manis dan mengalah, menunggu yang lain kenyang kemudian baru menghabiskan sisanya demi mengisi perutnya yang turut berbunyi. Pada akhirnya ia selalu kelaparan, karena yang lain tak 'berhenti' sebelum habis, tidak menyisakan sebutir nasi pun.

Kampung semakin berkuasa, merampas semua milik shitzu dan membuatnya selalu kelaparan. Diam-diam sang tuan memperhatikan, akan kejadian yang selalu berulang, seolah ialah bosnya, menindas dia yang lemah dan tak berdaya.

Kegeraman menghaki diri sang tuan, menyadari terdapat kesalahan besar di antara kedua anak buahnya itu, hingga jam makan tiba, si kampung didorong ke balik jeruji, sampai shitzu puas menghabiskan makanannya dan kampung mendapatkan sisanya.

Sifat yang tak dapat berubah, membuat kampung selalu berada dalam kerangkeng setiap jam makan tiba. Seandainya ia punya sedikit jiwa shitzu yang anggun dan tidak serakah ... tapi tamak sudah bagian dari jiwanya, sehingga bui adalah tempatnya.




Comments