Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

First Annual Balikpapan Fashion Book (Komunitas Penulis Balikpapan)

Menjadi salah satu bagian dari 53 orang penulis yang diundang pada First Annual Fashion Book di Plaza Balikpapan kemarin merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Dapat berkenalan dengan penulis-penulis keceh lainnya di Balikpapan. Konon kabarnya, 53 orang itu hanya sebagian kecil saja, jumlah penulis di Balikpapan ada ratusan loh. Wow, keren kan. Acara tahunan yang pertama ini pun diadakan sekaligus launching 4 buah buku karya penulis-penulis di Balikpapan.


Meskipun ada hal yang sedikit tidak enak ketika saya datang. Mungkin memang kurang koordinasi oleh panitia agar kalau datang hadir mengatakan kepada security bahwa para penulis yang hadir merupakan bagian dari panitia acara, tapi security yang terlalu kaku membuat saya agak kesal. Kami, para penulis dimintai untuk datang lebih awal yaitu pada pukul 09:00 WITA, biasalah saya, kalau datang lumayan tepat waktu, mana bawa anak dan lagi hamil lagi. Saya datang pagi jam 9 dan bilang jujur bahwa saya adalah peserta, bukan panitia. Meman…

Jeritan Hati Ibu Terhadap Kasus Predator Anak

Baru-baru ini terjadi lagi, di Kota Bontang - Kalimantan Timur, seorang kuli bangunan/tukang berusia 47 tahun, yang sudah duda beberapa tahun belakangan ini, ditangkap karena menyetubuhi anak majikannya yang baru berusia 5 tahun, dan mencabuli anak teman majikannya yang berusia 7 tahun. Anak teman majikannya kebetulan berkelit ingin buang air kecil ketika tersangka mulai mencabulinya. Berita ini dilansir oleh korankaltim.com tanggal 12 Januari 2018.
Sungguh miris menyaksikan, seorang tua bangke, sudah bau tanah, menjadi seorang predator anak, sampah masyarakat! Seandainya berdaya, setiap orang tua di dunia, ingin rasanya menembak mati saja para pemangsa anak. Tapi setiap negara punya hukum, dan sayangnya hukum di Indonesia sering kali masih memutuskan untuk memelihara sang predator menggunakan uang rakyat selama beberapa tahun di negara, padahal sudah jelas mereka sampah, dan telah jelas-jelas merusak generasi penerus bangsa, menghancurkan masa depan mereka, menciptakan trauma meny…

Ketika Kenyataan Tak Seindah Mimpi, Tinggal Menunggu Takdir Menjadi Manis.

Dulu ...
Sebelum saya menikah ... Impian itu ada ... Saya ingin memiliki suami yang dapat membuat saya lebih tunduk. Saya orangnya keras, saya butuh suami yang lembut yang mampu melunakkan hati saya. Tapi nampaknya sudah takdir saya. Saya besar di lingkungan keluarga yang menghadapi anak-anaknya pun bukan dengan kelembutan juga, sehingga saya sangat membangkang, tak ada rasa segan sedikit pun terhadap orang tua saya, kecuali hanya takut akan malu ketika mereka sengaja membentak saya di hadapan orang lain, atau rasa takut saat mereka mulai mengeluarkan hanger bahkan ikat pinggang untuk menghajar saya.
Saya menikah dengan lelaki asal Bugis, Sulawesi Selatan, yang memang terkenal keras juga. Meskipun usianya terpaut dua tahun di atas saya, tapi sifat keras kepalanya tidak kalah dengan adik saya yang usianya jauh di bawah saya 7 tahun. Kalau bertengkar dengan dia, tak akan ada habisnya kecuali salah satu pergi atau salah satu membanting dan mengunci pintu kamar hingga saling tak bertemu …