Jeritan Hati Ibu Terhadap Kasus Predator Anak

Sumber: http://www.sholihah.web.id/2016/06/tangisan-ibu.html

Baru-baru ini terjadi lagi, di Kota Bontang - Kalimantan Timur, seorang kuli bangunan/tukang berusia 47 tahun, yang sudah duda beberapa tahun belakangan ini, ditangkap karena menyetubuhi anak majikannya yang baru berusia 5 tahun, dan mencabuli anak teman majikannya yang berusia 7 tahun. Anak teman majikannya kebetulan berkelit ingin buang air kecil ketika tersangka mulai mencabulinya. Berita ini dilansir oleh korankaltim.com tanggal 12 Januari 2018.
Sungguh miris menyaksikan, seorang tua bangke, sudah bau tanah, menjadi seorang predator anak, sampah masyarakat! Seandainya berdaya, setiap orang tua di dunia, ingin rasanya menembak mati saja para pemangsa anak. Tapi setiap negara punya hukum, dan sayangnya hukum di Indonesia sering kali masih memutuskan untuk memelihara sang predator menggunakan uang rakyat selama beberapa tahun di negara, padahal sudah jelas mereka sampah, dan telah jelas-jelas merusak generasi penerus bangsa, menghancurkan masa depan mereka, menciptakan trauma menyakitkan dalam diri anak-anak seumur hidup mereka. Kemudian ia dibebaskan, dan bertambah tinggi ilmunya karena sudah berguru dengan para pemerkosa lain di dalam penjara, bahkan berguru dengan perampok serta pembunuh di dalam sana. Dibiarkan berkeliaran di sekitar kita, meresahkan masyarakat, membuat ancaman mengerikan kepada anak-anak di sekitarnya.
Dia pedofilia, sebuah penyimpangan seksual, pemangsa anak-anak yang masih dengan keluguannya masing-masing, lebih menikmati bersama anak-anak daripada dengan wanita dewasa, bahkan terkadang tidak memilih gender, anak lelaki pun jadi santapan lezatnya, mengapa sampah seperti itu harus kita pertahankan?
Ibu mana yang tidak geram? Ibu mana yang tidak khawatir? Ibu mana yang tidak kecewa? Ketika para predator masih dibiarkan hidup berkeliaran dengan bebas. Sementara ada anak yang masa depannya telah rusak karena ulahnya. Bahkan dapat menimbulkan ancaman bagi anak-anak lainnya.
Awal tahun 2018 ini, kejahatan terhadap anak-anak memang meningkat, miris sekali, bahkan ada yang dilakukan oleh orang tua kandung sendiri ataupun orang tua tiri. Tingkat membuang bayi oleh pasangan yang tidak bertanggung jawab pun meningkat, ada yang ditemukan dalam keadaan hidup, ada juga dalam keadaan sudah tak bernyawa. Dimana hatimu para manusia? Bahkan hewan pun tidak sekeji itu terhadap anak-anak pada jenisnya, apalagi kepada anak sendiri. Kebanyakan pasangan muda lebih takut dengan aib daripada dengan dosa, sehingga setelah berbuat dosa, guna menutupi aib, kembalilah berbuat dosa yang lebih besar. Naudzubillahi min dzalik.
Itupun sudah sangat memilukannya, lalu mengapa predator anak dipelihara oleh negara? Kenapa tidak segera dihukum mati saja. Memang sangat egois merenggut nyawa orang lain? Tapi tidak egois kah ia telah merenggut masa depan anak yang seharusnya masih ceria dan bermain layaknya anak lain? Bahkan kebanyakan dari para predator menyertai aksinya dengan pembunuhan karena khawatir kelakuan bejatnya ketahuan. Bahkan dari belasan orang yang memperkosa dan membunuh bocah SMP bernama Yuyun di Bengkulu, hanya seorang saja yang mendapatkan hukuman mati yaitu yang dianggap sebagai otaknya, padahal para pelaksana pun tak kalah bejatnya. Seandainya semuanya dihukum mati, tentulah perasaan orang tua Yuyun bahkan orang tua lainnya bisa lega. Mengapa harus dipertahankan??? Sampah masyarakat yang tidak layak diterima di dunia ini lagi.
Maafkan kami, para orang tua yang selalu berteriak, "Hukum mati!!! Matiin predator anak!".
Sesungguhnya kami hanya manusia biasa yang membutuhkan rasa aman terhadap anak-anak dan keluarga sendiri. Sesungguhnya kami pun sesama orang tua memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang tua lain yang anaknya telah menjadi korban. Selayaknya kami yang punya rasa benci dan tidak puas terhadap hukum yang diberikan kepada predator anak. Seandainya tak ada hukum negara, maka hukum rimba yang kami inginkan, membakar hidup-hidup predator anak di tengah kerumunan orang yang datang guna menyaksikan kesengsaraannya.
Kami hanyalah manusia biasa, dia punya ego, kami pun memiliki ego. Ego kami adalah demi kelangsungan hidup keluarga kami, sementara egonya untuk menghancurkan sebuah keluarga dengan anak yang jalan hidupnya masih panjang. Ego mana yang lebih baik?
Terutama bagi seorang ibu ... anak yang kami lahirkan, kami dukung pertumbuhannya, kami pantau perkembangannya, kami berikan fasilitas apapun untuk menunjang masa depannya, kami kasihi mereka dengan tulus, kami ajarkan mereka kelak mampu berdiri di atas kakinya sendiri, kami doakan mereka sepanjang hari karena tak mampu mengawasinya selama 24 jam karena 8 jam bahkan lebih berada di sekolah ... hingga datang orang lain dalam keluarga kami, entah itu guru yang kami butuhkan untuk mendidik anak kami di sekolah, entah itu keluarga terdekat yang tidak kami curigai keberadaannya, entah itu tukang yang sedang datang untuk memperbaiki rumah kami, ... dan merenggut segala sesuatunya dari seorang anak yang kami cintai dan harapkan memiliki masa depan cemerlang. Dimana hak asasi seorang anak? Dimana hak mereka untuk mendapat perlindungan dan rasa nyaman, sementara hak seorang pemangsa anak dilindungi dan dibiarkan untuk tetap hidup?
Mungkin tulisan ini tak berarti banyak, tapi begitulah jeritan hati sebagian besar dari kami ... jeritan hati seorang ibu yang menuntut hak atas anak-anak mereka untuk memiliki rasa aman dan nyaman menjalani hari.

Comments