Skip to main content

Yorick Anak Panjalu Yang Tak Pernah Patah - Review Novel Yorick

Keterangan: Novel Digital 'Yorick'
Sumber: Koleksi Pribadi

Tak Pernah Patah!
Tak Akan Menyerah!
Terus Melangkah!

Sebuah kampung di kaki Gunung Sawal, penyimpan cerita masa lalu yang akan terus terbayang di retina mata, tak termakan putaran masa, tak tergilas kerasnya zaman.

Ia berkhayal bisa terbang bersama layang-layang mengitari bukit Panjalu, menyentuh gumpalan awan putih biru yang berarak riang mengikuti kemana arah angin membawanya.

Seorang anak Panjalu 'tanpa orang tua' yang punya mimpi dan keberanian berhasil merangkul Rusia sebagai tempatnya berpijak menjadi agung.

Pembuka cerita yang manis, berawal dari seorang pemuda bernama Yorick yang sibuk mengejar cinta Nevia, berlatar sepanjang Jalan Nevsky Prospekt yang terletak di St Petersburg - Rusia, dengan keindahan Sungai Neva yang membuat pembaca ikut menyusuri tepiannya, hingga sebuah memory lama menyeruak dari dasar rasa rindu yang melekat, melalui hadirnya seorang anak berusia sekitar 5 tahun yang terjatuh dari sepeda dan neneknya.

Kecamatan Panjalu yang berada di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat adalah saksi bisu kesusahan Yorick bersama neneknya.

Nenek Encum, ibu dari ibu kandung Yorick, dengan pesannya selalu 'jangan merepotkan orang'  membuat Yorick menjadi anak yang jauh lebih mandiri dari anak-anak seusianya. Meskipun sang nenek membuat ia sedikit tergantung karena kepemilikian sesuatu yang sangat minim sejak ia kecil, bahkan kepemilikan atas orang tua yaitu punya tapi tak terlihat di sisi, dan sang kakek yang sudah pergi untuk selamanya sejak ia masih berusia 5 tahun, namun ilmu tak lekang oleh waktu. Pengajaran nenek tentang kemandirian dan keyakinan serta perjalanan yang telah ia lewati membawanya hingga ke tepi Sungai Neva - St Petersburg.

Yorick adalah seorang anak yang selalu ditolak karena dianggap benalu, dirampas haknya untuk bersama satu-satunya orang dan hal yang dia miliki dalam hidupnya baik Ujang si ayam kesayangan maupun neneknya sendiri, bahkan dipaksa keadaan untuk menahan rasa rindunya hingga tak bertepi karena dipisahkan oleh dunia. Orang yang paling ia sayangi harus berpulang terlebih dahulu tanpa kata perpisahan.

Cinta berbalas Yorick dan sang nenek terpisah oleh takdir, namun semangat nenek sudah terpatri dalam sanubarinya, menjadi bekalnya untuk tumbuh dan berkembang. Satu-satunya hal yang ia sesali hanyalah Nenek Encum belum sempat melihat dan merasakan apa yang sudah ia raih.

Kirana Kejora telah berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca melalui novel ini, membuat anak-anak sungai bukan hanya mengalir pada kedua pipi Nenek Encum saat merasakan kepedihan Yorick yang menganggap dirinya sebatang kara, melainkan juga dapat membentuk jalurnya di pipi pembaca.

Kisah Yorick kecil sangat mengharu biru dan pasti mengena langsung ke dasar hati pembaca, sementara perjalanan hidup Yorick semasa remaja hingga dewasa jauh lebih segar dan sarat ilmu terutama setelah Yorick pada akhirnya bertemu 'saudara tapi tak sedarah', yaitu kawan-kawannya yang setia mendampinginya dan membantunya meraih kesuksesan.

Apalagi saat tragedi rumah sakit, ketika seluruh kerabat Yorick berkumpul untuk menyaksikan kesengsaraan Yorick akan sakitnya, pembaca justru dibuat tertawa terpingkal-pingkal hanya karena kalimat sederhana yang dilontarkan oleh Yorick, "A Hen, doakan saya meninggal ya?"

Bahkan sebelum tragedi itu pun pembaca sudah dibuat segar oleh obrolan 'setengah gayung' sesama pasien muntah darah antara Yorick dan seorang bapak.

Yorick yang penuh semangat, bahkan tak akan patah meski dalam keadaan 'tirah baring', sangat menginspirasi.

Rahasia kisah cinta antara Yorick dan Nevia yang baru terbuka pada akhir novel menjadi bumbu yang menarik dari kisah Yorick serta membuat penasaran akan kelanjutan ceritanya karena 'Cinta Tanpa Tepi' yang tercipta.

Kesempurnaan hanya milik sang pencipta semesta, namun keberhasilan Kirana Kejora mengangkat kisah Yorick dalam Novel Yorick sangat dirasa mungkin dapat melahirkan tunas-tunas baru yang akan tumbuh menjadi sebuah pohon kokoh seperti nama itu, Yorick.


Judul Novel: Yorick 'Tak pernah patah, tak akan menyerah, terus melangkah'
Penulis: Kirana Kejora
Penerbit: PT Nevsky Prospekt
Cetakan: Cetakan pertama tahun 2018
Isi: 336 halaman
ISBN: 978-602-528-830-2
Harga: Rp.89000,- (Novel Fisik), Rp.72100,- (Novel Fisik dan Digital, diskon aplikasi), Rp.37000,- (Novel Digital)
Keterangan: Berdasarkan kisah nyata, telah diangkat ke layar lebar


Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=dxfTty_XNlo

Comments

Popular posts from this blog

Pertama kali ke dokter gigi anak (di Balikpapan)

Ide pergi ke dokter gigi anak tercetus ketika ponakkan saya mengalami sakit gigi yang sangat parah. Tetapi malang sekali karena dia merasakannya seminggu menjelang hari raya Idul Fitri, dimana para dokter mengambil cuti guna menyambut hari raya.

Sebelumnya kami sudah melakukan pencarian nama-nama dan tempat praktek dokter gigi anak di Kota Balikpapan, kemudian menemukan nama drg Evi yang beralamatkan di Wika. Namun ketika mami saya berkunjung ke sana membawa Sachio, ponakkan saya tersebut, rumahnya kosong, sehingga mencoba mencari alternatif lainnya.

Kami menemukan nama drg Helsa yang mana spesialis gigi anak recommended juga di Kota Balikpapan, dan alhamdulillah praktek di klinik dekat rumah saya. Saya memutuskan untuk ikut memeriksakan gigi Aisyah sekalian.

Artis cilik Balikpapan 90-an yang sukses di Jakarta (Merpati Putih Balikpapan)

Balikpapan, salah satu sudut Benua Etam, terkenal dengan gadis-gadisnya yang rupawan, penuh prestasi pula. Dari model catwalk, photo model, sampai penyanyi ada di Kota ini. Terutama bagi generasi 90-an, banyak artis perempuan Balikpapan pada masa itu yang kini telah hijrah dan sukses di Ibu Kota. Siapa saja sih? Yuk kita simak, sekalian mengenang masa mereka ngetop di kota tercinta kita ini.
1. Jenifer Arnelita

Awalnya Jennifer Arnelita terkenal sebagai artis penyanyi cilik dan model remaja di Kota Balikpapan, hingga akhirnya ia terpilih menjadi bintang iklan salah satu produk perawatan tubuh remaja dan mengharuskannya hijrah ke Jakarta. Saat itu, ia masih duduk di kelas 2 SMP Negeri 1 Balikpapan. Di Ibu Kota, nama Jennifer semakin terkenal, beberapa FTV dan sinetron pun ia bintangi bersama artis-artis kawakan Indonesia, seperti Meriam Belina. Artis kelahiran Balikpapan 17 Desember 1984 ini telah menikah sejak pertengahan tahun 2015 dan kini disibukan dengan kegiatannya merawat buah …

Transformasi para pemain "Jangan Ambil Nyawaku" 1981 VS 2017. Nomor 6 romantis!

Baru-baru ini sebuah stasiun tevevisi swasta yang khusus menayangkan film-film tempo doeloe memutar sebuah film yang dibuat dengan sangat profesional dan serius, para pemainnya pun orang-orang senior yang bergelut di dunia theatre dan masih memiliki nama besar hingga kini, berjudul 'Jangan Ambil Nyawaku'.
Film tersebut berkisah tentang sebuah keluarga Batak yang harmonis, suami istri romantis, anak-anak yang manis, namun harus harus menghadapi cobaan yang berat yaitu si ibu menderita kanker rahim, dan harus terus melakukan kemoterapi, sementara sang ayah pun harus terapi mengobati impotensi karena stres, keluarga mendadak dirundung duka. Kisah ini diambil dari kisah nyata yang dinovelkan.
Para pemain pada film tersebut adalah Frans Tumbuan sebagai ayah, Lenny Marlina sebagai ibu, Ria Irawan sebagai anak tertua, Nunu Datau sebagai anak kedua, dan Hendra Saputra sebagai anak bungsu. Film yang disutradarai oleh Sophan Sophiaan ini juga menghadirkan Zainal Abidin sebagai dokter, …