Sabtu, 29 Agustus 2020

Adopsi Hutan - Lestarikan Keanekaragaman Hayati Hutan Yang Lebih Dari Sekedar Pohon

Bukit Bangkirai
Bukit Bangkirai.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.

        Belasan tahun silam, aku menuliskan skripsi atau dikenal juga dengan tugas akhir perkuliahan yang berjudul "Pemanfaatan Bukit Bangkirai Sebagai Ekowisata di Kalimantan Timur". Kebetulan aku mengambil perkuliahan di bidang Manajemen Kepariwisataan kala itu.

        Bukit Bangkirai adalah nama dari sebuah Hutan Lindung yang berada tidak begitu jauh dari Kota Balikpapan, yaitu sejauh 38 kilo saja jarak tempuhnya, namun berada di Kawasan Kutai Kartanegara.

        Kebetulan Bukit Bangkirai menawarkan beberapa atraksi wisata hutan juga seperti Jembatan Gantung Kanopi yang menghubungkan beberapa pohon, dan butuh menapaki anak-anak tangga yang terbuat dari kayu ulin atau bangkirai dengan ketinggian 30 meter dari permukaan tanah.

Cerita dari hutan.

        Masih teringat ketika awal aku melintasi hutan, menyusuri track yang telah disediakan guna menuju atraksi wisata yang ditawarkan oleh Kawasan Hutan Lindung tersebut, yaitu meniti jembatan gantung sepanjang 64 Meter yang menghubungkan 3 Pohon Bangkirai besar.

        Semula, image yang tertanam dalam benakku tentang hutan hanyalah kegelapan, tak ada hal menyenangkan di dalamnya.

        Dalam pikiranku ketika itu, hutan adalah tempat tinggalnya hewan buas dan manusia yang masuk ke dalamnya akan susah mencari jalan keluar.

        Sangat berbeda dengan pandangan turis asing yang datang berkunjung.
        Berdasarkan cerita perwakilan dari PT Inhutani saat menemaniku dan keluarga masuk ke dalam Kawasan Bukit Bangkirai, "Biasanya orang bule kalau datang menginap di Cottage-nya Mbak, trus malam-malam mengajak anaknya tracking di hutan."
        Wow banget pikirku kala itu.
        "Mereka justru menikmati sensasi itu Mbak, melihat ada kalajengking melintas, hal yang jarang mereka lihat, yang unik-unik gitulah." Tutur si Bapak lagi menjelaskan.
        "Nah ini pohon tumbang, berusia 250 tahun." Saat aku berkunjung sebagai bahan menulis skripsi itu masih tahun 2005.
        "Kalau yang ini namanya Pohon Gaung. Kenapa namanya Gaung? Karena kalau dipukul ada gaungan, jadi jangan takut tersesat Mbak. Pasti dibantu sama pohon." Kata Bapak itu lagi ketika kami melewati satu persatu pohon yang unik dan dirasa perlu untuk dijelaskan.
        Kala kami melintasi jalan setapak dan melihat sebuah pohon besar berpapan nama, akupun bertanya, "Ini maksudnya pohon, ada yang punya Pak?"
        Memang ada beberapa pohon yang terdapat papan bertuliskan keterangan nama Sang Pemilik.
        "Lah iya Mbak, kami membuka adopter bagi pohon-pohon yang ada di sini. Kan pohon juga butuh biaya untuk perawatan dan pelestarian Mbak."
        Wah keren, pikirku. Secinta itu mereka pada pohon sehingga pohon pun diadopsi. Termasuk si Bapak yang bercerita dengan antusiasnya mengenai hutan yang ia kelola, menandakan kecintaannya yang luar biasa.

Sensasi Hutan dari Canopy Bridge di Kawasan Wisata Alam (KWA) Bukit Bangkirai.

        Setelah melakukan tracking sejauh sekitar 500 Meter, akhirnya kami tiba juga ke tempat dimana Jembatan Gantung berada.
        Hanya aku, adikku, tanteku, dan sepupuku yang berani menguji nyali untuk naik satu demi satu anak tangga yang mengelilingi pohon bangkirai.
        Mamiku sudah duluan mengangkat kedua tangannya, sebagai tanda menyerah. Begitupun dengan papaku.

Bukit Bangkirai
Jembatan Gantung di Bukit Bangkirai.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.
                      Sungguh di luar bayanganku sebelumnya. Setelah adrenalinku berpacu dengan jantung ketika pertama kali sebelah kakiku menapaki jembatan gantung dan goyangannya sangat terasa, aku cukup menikmati berada di tengah hutan dari ketinggian.
        Meskipun ketika aku sampai di tengah jembatan dan sepupuku mau mulai ikut berjalan di belakangku, tetap saja aku berteriak histeris, karena jembatannya terasa lebih kuat berayun.
        Tapi pernah nggak sih kalian membayangkan, betapa nikmatnya melihat pepohonan yang masih asri, terlihat merata, tanpa celah, seolah saling merangkul memeluk bumi tercinta.
        Lalu terdengar berbagai macam suara alam yang tak pernah kita dapatkan di kota, selain suara knalpot mobil yang rusak beserta kepulan asapnya yang meracuni setiap udara yang kita hirup.
        Mulai dari suara burung bersahut-sahutan, suara tupai yang mungkin tengah berlompatan dari satu ranting ke ranting lainnya, serta suara jangkrik dan orang utan yang bersahut-sahutan. 
        Dan kemana kunang-kunang? Pernahkah kita melihat masih ada kunang-kunang tersisa di kota? Bahkan belalang tanaman rumput yang bernama Grasshopper pun sudah jarang kita temui.

Hewan-hewan hutan mini tapi memiliki kesan yang besar bagiku.

        Dulu waktu aku masih kecil, tinggal di rumah lamaku yang konon dulu bekas hutan juga, masih sering aku temui Grasshopper, Jangkrik, Ladybug (biasa aku sebut 'Kumbang Sedan'), bahkan lubang-lubang naga kecil yang hidup di bawah tanah.

Naga Kecil
Aku biasa menyebut hewan ini sebagai Naga.
Sumber Foto http://miftahrizkamuna.blogspot.com
        Terakhir aku berkunjung ke sana, keanekaragaman hayati yang ada, hanya sisa beberapa pohon yang hidup berdampingan dengan pemukiman penduduk.
        Adapun sempat terlihat olehku seekor tupai yang memanjat pohon kelapa dengan cepat, ketakutan bertemu manusia, yang mungkin dalam bayangannya adalah 'siap untuk memangsa'.

Jika hutan musnah, mereka juga akan musnah.

        Lalu bagaimana dengan sekumpulan monyet yang mendadak datang ke kota dan menjarah rumah warga karena kelaparan?
        Ada satu waktu rumahku sempat menjadi sasaran monyet untuk berkunjung.
        Kebetulan dapur di rumahku tipikal dapur yang terbuka. Sekumpulan monyet pun datang untuk memakani telur-telur ayam mentah milikku, yang terletak dengan manisnya di rak.
        Kalau mereka tidak menemukan telur, mereka beramai-ramai memakan daun pepaya yang pohonnya tumbuh di halaman rumahku.
Ketika para monyet berkunjung ke rumahku. Aku hanya berani memotret dari balik kaca jendela.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.
        Mungkin saat itu hutan sedang ada masalah, seperti banyak penebangan liar misalnya, atau kebakaran hutan, sehingga mereka terpaksa berlarian masuk kota, mencari makan dengan caranya sendiri.
        Padahal biasanya tanpa mereka cari, hutan telah menyediakan semua hal yang mereka butuhkan, mulai dari tempat tinggal sampai dengan makanan.

Program Adopsi Hutan.
        
        Keanekaragaman hayati hutan yang lebih dari sekedar pohon harus kita lindungi dan lestarikan bersama-sama, oleh karena itu mari kita secara bergotong royong mengadopsi Hutan Indonesia agar bisa tetap hidup di Bumi Ibu Pertiwi ini.
        Betapa beruntungnya setiap pohon yang telah memiliki orang tua asuh, mereka tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan baik karena ada penjaminnya, lalu bagaimana dengan pohon-pohon lain yang belum menemukan adopter-nya?
        Adapun yang lebih dari sekedar pohon, bagaimana ekosistem yang berada di dalamnya, keanekaragaman hayati yang ada, keberlangsungan hidup mereka, apakah juga telah terjamin?
       Jadi, marilah kawan, kita bergotong-royong mengikuti Program Adopsi Hutan sebagai wujud kepedulian kita sebagai masyarakan non lingkungan namun turut andil dalam melestarikan hutan negeri.
        Mari kita jaga hutan bersama-sama, dimanapun kita berada. Pastikan patroli hutan berjalan lancar, pastikan ketersediaan air dan oksigen selalu ada dan baik, serta dukung masyarakat yang tinggal di sekitar hutan agar turut membantu melestarikan hutan.
        Meskipun jarak yang harus kita tempuh jauh, meskipun kita tak punya koneksi langsung dengan para penjaga hutan, tapi kita tetap dapat menjadi orang tua asuh bagi Hutan Indonesia.
        Libatkan diri dengan cara berdonasi, menyisihkan sedikit rezeki yang kita miliki untuk keberlangsungan hidup hutan di sekitar kita.
        Rayakan Hari Hutan Indonesia untuk yang pertama kalinya, yaitu pada tanggal 7 Agustus 2020, dengan mengikuti Program Adopsi Hutan.

greenpeace.org
Lestarikan hutan tempat tinggal mereka.
Sumber Foto: Greenpeace.org


        

Jumat, 28 Agustus 2020

Permainan Lempar Bola Dapat Melatih Konsentrasi Anakku Yang Speech Delay

Tumbuh Kembang Anak

       
Seorang bocah lelaki berkulit putih dan berwarna rambut kemerah-merahan telah lahir dari rahimku dua tahun yang lalu.
        Matanya yang berwarna abu-abu menambah ciri khas bagi dirinya yang berwajah cukup menarik meski memiliki hidung yang mini, sebagaimana bentuk hidung kedua orang tuanya.
        Tapi anak bungsuku ini sempat membuat kami merasa sangat khawatir karena pada usianya yang sudah mendekati 3 bulan, matanya sama sekali tidak merespon pergerakan, sampai kami membawanya untuk periksa ke spesialis mata.
        Syukurlah hasil pemeriksaannya baik-baik saja, menurut dokter hanya sedikit terlambat karena pupilnya sama sekali tak ada masalah.
        Dan tidak lama setelahnya, dia mulai bisa merespon, tapi sama sekali tidak mau tersenyum, sampai dahinya selalu terlihat berkerut-kerut.
        Pertumbuhan fisiknya sama sekali tidak mengalami kendala, hanya saja memang perkembangan motoriknya sedikit terlambat, seperti ketika penglihatannya terlambat untuk merespos benda bergerak, dan dia baru mulai belajar jalan di usianya yang masuk 15 bulan.
        Nah, yang kini paling menjadi kekhawatiranku adalah keterlambatannya dalam berbicara, meskipun semua hal yang aku katakan padanya, bisa ia mengerti.
        Apalagi bagiku, seorang Single Mom, dalam satu tahun belakangan ini aku sangat berusaha untuk melatih anak bungsuku segera bisa berbicara, paling tidak sekedar bisa memanggilku 'Mami'.
        Aku berpisah dengan ayahnya anak-anakku tepat 1 tahun yang lalu.
        Berdasarkan artikel yang sempat aku baca, Speech Delay dapat menyebabkan seorang anak menjadi lebih temperamen, susah diatur, serta sulit untuk berkonsentrasi.
        Ya, dua diantaranya tepat sekali. Anak bungsuku ini sangat pemarah, tapi aku memakluminya karena ia pasti kesal karena merasa susah untuk menyampaikan maksudnya kepada setiap orang.
        Sepertinya dia juga memaklumi kondisi dirinya yang akan marah jika orang lain tidak mengerti apa yang hendak ia sampaikan, sehingga jika ingin meminta orang lain melakukan apapun yang dia inginkan, dia akan memintaku mengatakannya.
        Seorang anak, sedini apapun usianya, selalu paham ya bahwa yang paling mengerti dirinya adalah Sang Ibu.
        Dia juga sedikit susah diatur. Istilah orang jaman dulu adalah 'semau-maunya sendiri'. Ya mungkin karena dia merasa lebih butuh perhatian daripada yang lainnya.
        Sebagai seorang ibu, aku berusaha memahami kedua anakku, semampuku.
        Nah, sedangkan untuk mengetahui tingkat konsentrasi seorang anak itu cukup sulit bagiku, dimana memang anak seusianya suka berubah-ubah fokusnya, tergantung hal apa yang lebih menarik daripada hal yang sedang dia lakukan.
        Tapi kalau bisa untuk dicegah, kenapa harus menunggu untuk diobati bukan?
Dancow
Aksinya ketika akan melempar bola.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.
       Permainan Lempar Bola menjadi salah satu alternatifku untuk melatih konsentrasinya, selain merupakan permainan yang menarik bagi anak laki-laki.
        Awalnya aku iseng meletakkan ember sekitar 2 meter dari tempat kami berada, lalu mengambil bola basketnya yang berukuran mini dan melemparkannya agar masuk ke dalam ember tersebut.
        Lalu aku berteriak kegirangan ketika berhasil untuk menarik perhatiannya.
        Dia yang semula sibuk turun naik tempat tidur, langsung teralihkan pada permainan yang tampak mengasyikan sedang aku lakukan tersebut.
        Lucu sekali tingkah polahnya ketika  ikut bergembira melakukan Permainan Lempar Bola meski seringkali masih keluar dari ember.
        Melempar bola untuk masuk ke dalam lubang yang disediakan bisa melatih konsentrasinya karena ia akan fokus pada satu titik dimana ia harus memasukkan bolanya.
Melatih Konsentrasi Anak
Aksinya bersama Sang Kakak untuk menangkap bola yang aku lontarkan.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.
        Selain lempar bola, aku sering melatihnya untuk menangkap bola juga. Menurutku, menangkap bola juga bisa melatih konsentrasi si bungsu dimana dia akan fokus melihat kemana arah bola akan mendarat.
        Jadilah bermain bola menjadi permainan yang paling dia sukai dan menjadi kesempatan kami sekeluarga untuk bersenang-senang bersama.
        Tapi cepat lancar dong bicaranya Sayang, Mami ingin segera mendengarmu memanggil 'Mami' berulang kali.
       

Minggu, 23 Agustus 2020

Penyebab Stunting Itu Apa Saja Ya?

        
Lifebouy
Sumber Foto: Lifebouy.com

        Pernah nggak sih kita melihat orang yang bertubuh pendek tapi wajahnya jauh lebih dewasa dari usianya? Kadang kita menyebutnya 'tua kecil'.
        Ada beberapa artis yang familiar karena sering seliweran di televisi juga memiliki ciri-ciri seperti itu.
        Lalu tentu sebagian dari kita berpikir, kira-kira apakah faktor penyebabnya? Keturunan dari kedua orang tuanya kah? Karena sempat sakit kah? Atau faktor lainnya.
        'Tua kecil' adalah suatu kondisi stunting yaitu suatu kondisi dimana pertumbuhan terhambat akibat kekurangan gizi, jadi stunting sebenarnya bisa dicegah.
        Aku pernah membahas tentang hal ini di Blog sekitar 2 tahun yang lalu, tetapi ternyata angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi loh.
        Dr Kirana Pritasari MQIH, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemkes mengatakan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh PT Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia mengatakan bahwa angka stunting di Indonesia masih di atas 30% melebihi toleransi WHO yang hanya 10 sampai 20% (mediaindonesia.com, 27 Februari 2020).
        Beberapa orang tua menganggap bahwa kondisi tubuh bayi dan balita yang jauh lebih kecil dari anak-anak seusianya adalah biasa, "Ah masih kecil ini, nanti kalau sudah besar juga tinggi sendiri."
        Padahal sebagai orang tua, kita harus terus memantau pertumbuhan tubuh anak-anak kita, apakah tinggi tubuh dan berat tubuhnya normal untuk anak-anak seusianya? Jika tidak, maka harus segera konsultasi ke Dokter Anak untuk melakukan perbaikan gizi.

Tabel Tinggi dan Berat Badan
Tabel Tinggi dan Berat Badan anak usia 0 hingga 12 tahun yang aku rangkum berdasarkan WHO.
https://www.bombonasam.club/2018/09/pencegahan-stunting-melalui-hal-hal-sederhana.html#comments

        Tapi apakah hanya karena kekurangan gizi yang dapat menyebabkan seorang anak mengalami stunting? Yuk kita simak di bawah ini apa saja yang menjadi faktor penyebabnya.

        Penyebab Stunting, antara lain:

1. Kekurangan Gizi

    Ini sudah jelas merupakan faktor utama, anak-anak yang mengalami gizi buruk akan menjadi Stunting sehingga perlu banget orang tua memperhatikan gizi dan pola makan anak-anaknya. Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil juga dapat menyebabkan anak yang dilahirkannya mengalami kondisi Stunting.

2. Infeksi Kuman dan Bakteri

   Calon Ibu yang hidup di lingkungan yang krisis air bersih dan lingkungan kotor jauh lebih rentan memiliki anak yang akan mengalami Kondisi Stunting, oleh karenanya selalu jaga kebersihan tubuh dan lingkungan tempat tinggal kita agar  terhindar dari Infeksi Kuman dan Bakteri yang dapat menyebabkan anak-anak lahir dengan kondisi Stunting.

3. Masalah Kehamilan

    Stunting bisa disebabkan juga karena kehamilan di usia remaja, gangguan mental pada ibu hamil, jarak kehamilan yang pendek, dan hipertrensi. Oleh karenanya Stunting dapat dicegah sejak masa kehamilan dan masa sebelum kehamilan yaitu hindari pernikahan dini, ikuti Program Pemerintah Keluarga Berencana, dan perhatikan kesehatan fisik maupun mental Ibu Hamil.

4. Pola Hidup Tidak Sehat

    Rajinlah berolah raga dan memiliki tidur yang berkualitas, khususnya bagi calon ibu. Hindari polusi, banyak menghirup udara yang sehat, perhatikan unsur 4 Sehat pada makanan, juga merupakan bentuk Pola Hidup Sehat. 

        Lalu bagaimana kita tahu sedini mungkin bahwa anak-anak mengalami Stunting?

1. Rajin pergi ke Posyandu untuk mengukur Tinggi dan Berat Badan Anak. Jika Tinggi badan anak tidak naik malah cenderung turun maka perlu konsultasi lebih lanjut kepada Dokter Anak untuk mencegah anak tumbuh dewasa dengan kondisi Stunting.

2. Perkembangan anak terhambat, misalnya kesulitan belajar, yang seharusnya sudah bisa melakukan sesuatu bagi anak seusianya tapi dia belum bisa melakukannya, atau terlambat menstruasi untuk yang pertama kali bagi anak perempuan (menarche).

3. Mudah terserang berbagai penyakit infeksi.
        Jadi, yuk cegah Stunting sekarang juga. Sayangi anak-anak kita dan biarkan ia tumbuh dengan normal sesuai dengan usianya.

Jumat, 14 Agustus 2020

Hempaskan Sikap Rasisme Dengan Anggun - Pohon Kokoh Yang Pandai

Adat Turun Tanah
Remaja Putri Wakatobi menjalankan upacara Turun Tanah (Kansaoda'a).
Sumber Foto: Pesona Travel
Tak ada seorang pun yang mampu menumbangkan pohon yang kokoh. - Annisa Tang -
        
        Ada kata pepatah yang menyatakan bahwa semakin tinggi pohon, semakin kuat juga angin berusaha untuk menumbangkannya, namun semakin tinggi dirimu berada maka tak seorang pun dapat merendahkanmu.
        Bukan perkara mudah untukku memberanikan diri membuat sebuah tulisan ini karena menyangkut beberapa golongan, bukan hanya satu atau dua orang, tetapi aku pikir perlu untuk tetap ditulis sebagai pencerahan saja.
        Semoga maksud baikku tidak disalah-artikan, mohon maaf sebelumnya jika ternyata ada beberapa pihak yang merasa tersinggung atas tulisanku kali ini.
        Pada tahun 2015, penyanyi dangdut Cita-citata dianggap telah melakukan hal yang rasis dengan mengatakan "Cantik kan? Nggak seperti Orang Papua.", saat itu kebetulan ia menggunakan pakaian ala 'Wanita Papua'.


Leidi Rumbiak Herlin
Leidi Herlin Rumbiak. Ratu Kecantikan Wakil Papua Barat 2017.
Sumber Foto: Tagar.id
        Sesungguhnya wajar jika banyak yang merasa tersinggung mendengar kalimat seperti itu diucapkan kepada Ranah Public, mengingat Cita Citata adalah seorang Public Figure yang dapat menjadi Role Mode bagi para penggemarnya. Tetapi sebenarnya sah juga jika kita sekedar menganggap bahwa dia hanyalah salah satu orang yang bodoh dan tidak tahu dengan apa yang ia katakan.
        Menurutku sudah cukuplah dengan melakukan mediasi antara Cita Citata dengan salah satu Tokoh Masyarakat Papua saja, kemudian meminta dia meralat ucapannya melalui Video Recording untuk dipublikasi, tanpa perlu memperpanjang masalah hingga ke ranah hukum dan terus-terusan menjadi pembahasan di media massa yang dapat menyebabkan hukuman sosial terus berlanjut karena menganggapnya sebagai seorang yang rasis.
        Padahal seorang Cita Citata kan tak lebih hebat dari seorang Papua yang berpendidikan tinggi, seorang Papua yang beretika baik, seorang Papua yang sukses (menjadi pengusaha atau pejabat, misalnya), seorang wanita Papua yang dianggap cantik dan pandai sehingga dapat mewakili Provinsinya untuk mengikuti ajang pemilihan putri bergengsi tingkat nasional, bahkan tak lebih hebat dari seorang wanita Papua yang berhasil menjalankan biduk rumah tangga yang harmonis.
        Tapi kalau yang terakhir itu, aku senasib dengan Cita Citata, hehehee ... Single Fighter.

Kita tak bisa mengatur sikap orang lain terhadap kita, namun kita bisa mengendalikan diri kita sesuai apa yang kita inginkan. - Annisa Tang -
        
        Seandainya kita bisa merubah mindset kita, menumbuhkan rasa Percaya Diri kita, pasti tak ada satupun orang yang dapat menjatuhkan harga diri kita.
        Bukan hanya teruntuk bagi Masyarakat Papua, peristiwa Cita Citata tersebut hanya seolah me-refresh ingatanku karena baru-baru ini di Kalimantan Timur juga terjadi sikap rasis yang dilakukan oleh seorang oknum wanita, dimana dia menuliskan kalimat "Pakai Filter, padahal aslinya kayak Butun" pada story Sosial Medianya.
        Sebagai keturunan Suku Buton, banyak keluarga dan kerabat yang tersinggung akan pernyataannya tersebut, bahkan konon kabar yang beredar bahwa rumahnya juga sempat didatangi oleh Warga keturunan Buton secara beramai-ramai, dimana Hukuman Sosial sebelumnya juga telah ia terima melalui caci maki para netizen.
        Memang sejak jaman dahulu, di Kalimantan Timur, khususnya yang aku ketahui di Kota Balikpapan dan Samarinda, Suku Buton seringkali menjadi olok-olokan oleh suku lain yang belum mengerti akan bahaya dan dampak rasisme dalam kehidupan.
        Bahkan Suku Buton dikenal sebagai 'Butun', dan sejak jaman aku kecil, seolah sudah lumrah beberapa suku lain menjadikan Suku Buton sebagai bahan olokan, yaitu dengan menyebutkan berulangkali 'Butun Butun Butun' yang ditujukan kepada seseorang bersuku itu.
        Di Balikpapan pun ada Pasar yang dinamakan Pasar Butun karena mayoritas pedagangnya adalah Suku Buton. Kebetulan sebagian Suku Buton di Kota Balikpapan berprofesi sebagai buruh kasar, di samping banyak yang berprofesi sebagai pedagang pasar, seperti buruh di Pelabuhan atau di Bandara, petugas kebersihan jalan, serta pembantu rumah tangga.
        Tetapi ketika beberapa orang yang memperkerjakan orang Suku Buton kita tanyakan mengapa mereka lebih sering memperkerjakan Orang Buton, jawabannya hampir selalu sama, yaitu karena Orang Buton terkenal sebagai orang yang jujur dan rajin.
        Itu nilai plus loh. Ada beberapa suku juga yang dipandang oleh suku lain secara general sebagai orang yang tidak jujur, ada juga yang dinilai sebagai sarang preman, bahkan ada juga yang dinilai bahwa para wanitanya suka menggoda.
        Jadi sebenarnya rasis bukan hanya terjadi dan dirasakan oleh sebagian suku saja. Banyak terjadi di sekitar kita. Bahkan pada orang kulit putih sekalipun, dimana waktu aku kecil pernah mendengar teman main yang sepantaranku berkata, "Biasanya orang putih itu bau, jarang mandi."
        Duh, anak kecil tahu begituan darimana coba kalau bukan dari orang tuanya? Heheheee ... Kebetulan aku berkulit putih.
        Kadang image yang melekat sebagai generalisasi pada suatu suku bangsa tampak sangat penting bagi kita yang mengalaminya, tetapi mengapa hanya dalam hal fisik yang negatif yang kita pedulikan?
        Suku Buton terkenal oleh sebagian orang sebagai suku yang berkulit hitam legam, dianggap berwajah kurang menarik atau malah tidak menarik sama sekali (mungkin), sehingga jika ada orang yang berkata bahwa seseorang itu pasti suku Buton karena sudah terlihat dari wajahnya, berarti bukanlah hal yang baik.
        Padahal menurutku sih baik atau tidaknya seseorang bukan dinilai dari fisiknya. Biar saja mereka menganggap golongan kita tidak cantik, toh mereka tak lebih rupawan fisiknya daripada kita dan terutama tidak lebih berprestasi tentunya.
       Tidak seharusnya juga kita menunjukkan ketidak-percayaan diri kepada public. Yang perlu kita tunjukkan adalah keunggulan kita dan mengatakan kepada setiap orang mengenai etnis kita sesungguhnya dengan cara yang anggun.
        Tak semestinya kita yang berpendidikan tinggi berlawanan dengan orang yang 'tidak sekolah' dan kurang pendidikan sampai-sampai mereka tidak mengerti dampak dari perbuatannya yang dapat dinilai sebagai sikap rasisme.
        Aku sendiri keturunan Buton Wakatobi dari pihak Mami, sedangkan Papaku Tionghoa.
        Setiap kali ada yang mengetahui kalau papaku adalah Orang China, maka saat itu juga mereka akan berkomentar, "Oh pantas putih."
        Padahal Mamiku berwajah cantik dan berkulit putih, suku asli Buton, tanpa sentuhan darah suku lain sama sekali. Sudah gurih kok Mamiku ini meski tanpa micin. Tak baik juga kalau kebanyakan micin, nanti jadi bodoh katanya anak jaman now, hehehe.

Wa Ode Yannie
My Mom ketika beliau masih belia, Wa Ode. Foto adalah Koleksi Pribadi.
        Setiap Suku Bangsa itu unik dalam hal fisik, meski tak semua hal harus dinilai melalui itu.
        Jika tak ada warga dengan etnis seperti Papua, atau etnis Buton, dan etnis lainnya, maka tiada keberagaman. Begitupun dengan bahasa daerah yang kita gunakan, seaneh apapun didengar oleh telinga suku yang lain.
        Ada ras kulit putih, ada ras kulit hitam, dan ada ras kulit merah, kalau di Dunia Internasional.


Artis Wa Ode
Wa Ode Kartika, artis. Sumber: Naviri Magazine.

        Sungguh sama sekali tak menjadi masalah bagiku jika aku menjadi bagian dari suku yang dilihat oleh sebagian suku lain sebagai suku yang mayoritas bentuk fisiknya sama sekali tidak menarik. Meski bukan berarti juga setiap orang bebas bersikap rasis.
        Tapi memang menurut pendapatku pribadi, kadang seseorang tidak sungguh-sungguh berniat untuk bersikap rasisme, hanya saja ia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa tindakannya dapat membuat banyak orang menjadi tersinggung dan marah.
        Kalau opiniku sih, rasisme itu selain mengolok-olok, juga dibarengi dengan sikap 'anti' atau membatasi diri untuk bergaul dengan orang tersebut, bahkan meminta keluarganya untuk tidak berhubungan dengan orang dari golongan tertentu. Ya seperti yang terjadi pada bangsa kulit hitam pada jaman dahulu di AS dimana orang kulit putih membatasi diri untuk bergaul dengan mereka.
        Sedangkan kadang kita sejak jaman dahulu kala, antar teman saja, jangankan mengolok-olok hal yang lain, nama Bapak sendiri saja menjadi bahan olokan, padahal kan jatuhnya tidak sopan pada orang tua kita. Heheheee.






Kamis, 13 Agustus 2020

Menerapkan Pola Asuh Anak Tanpa Kekerasan - Bukti Kebijaksanaan Orang Tua

Sumber Foto: medium.com

        Berkaca pada peristiwa masa lalu dimana para orang tua memberlakukan hukuman fisik terhadap anak mereka. Mulai dari hanger, ikat pinggang, rotan, bahkan sapu lidi menjadi koleksi yang paling ditakuti oleh anak-anak jaman dulu, yaitu tahun 2000 ke bawah, dimana anak tahun 90-an mungkin generasi terakhir yang tahu rahasia umum ini, saksi hidup keganasan orang tua jaman sebelumnya.
        Bahkan di forum-forum atau grup umum pada laman Sosial Media, sebagian netizen menceritakan dengan bangganya kejadian masa lalu yang mereka alami, termasuk saat ada berita tentang seorang guru yang dituntut oleh orang tua murid karena menerapkan hukuman fisik pada anak mereka, selalu saja ada netizen yang berkomentar, "Kalau dulu aku dipukul guruku, pulang-pulang malah ditambahin oleh Mamakku.".
        Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan bahwa, "Jika sebuah sistem berjalan salah atau tidak semestinya, maka sudah seharusnya jika sistem itu dibenahi, bukan malah meneruskan sistem yang salah tersebut."
        Orang tua jaman dahulu hanya berfokus pada cara dimana agar seorang anak tidak berdaya upaya untuk membantah dan melawan kepada orang tuanya, agar mereka kelak tidak menjadi anak yang durhaka, sayangnya masih minim ilmu sehingga mereka hanya memiliki satu jalan yaitu melakukan hukuman fisik sebagai efek jera.
        Hukuman fisik yang mungkin tidak melukai tubuh seorang anak tetapi dapat melukai hati dan jiwa seorang anak seumur hidup mereka.
        Padahal jika hukuman fisik diperbolehkan dalam memperbaiki anak-anak yang 'rusak', mungkin tugas guru BP bukan untuk merangkul anak-anak yang bermasalah agar dapat menjadi baik, melainkan menghajarnya saja agar mereka tidak mengulangi kesalahannya, hehehe.
        Tak usah ada lagi penjara, setiap yang berbuat kejahatan, langsung dimatiin saja agar 'calon penjahat' lainnya jera, meski hanya kesalahan kecil yang mereka perbuat, seperti mencuri singkong di pekarangan kebun tetangga misalnya.
        Tetapi kini jaman sudah berubah, informasi mudah didapatkan dimana saja, para orang tua baru dapat memperkaya ilmu langsung melalui ahlinya dari media-media terpercaya sehingga seharusnya mampu menyaring didikan orang tua jaman dahulu, yang baik diikuti sedangkan yang sudah diketahui tidak benar hendaknya jangan diterus-teruskan.
        Baru-baru ini saya sempat berdebat kecil dengan golongan 'Bapak-bapak' yang ingin sekali anak-anaknya didisiplinkan guru dengan cara dihajar. Entah dendam terselubung mungkin karena waktu kecilnya sering dihantam oleh gurunya sehingga ingin balas dendam kepada anak-anaknya, ataukah memang ada kelainan jiwa yang senang saja melihat anaknya disiksa guru. Hehehe.
        Berawal dari postingan seorang Bapak yang mengatakan bahwa "Dulu guru dipolisikan orang tua karena mendisiplinkan anak, sekarang selamat mencoba mendidik anak di rumah. Semoga Berhasil!".
        Aku berkomentar hal yang benar, namun ternyata dianggap salah oleh sebagian bapak yang bermimpi anaknya kelak didisiplinkan guru dengan cara dihajar (mungkin, berdasarkan isi komentar dia sendiri).
        "Yang dipolisikan itu guru yang melakukan kekerasan fisik kan ya? Mendisiplinkan seorang anak tidak harus menggunakan kekerasan fisik." Begitu kira-kira isi komentarku.
        Ternyata komentar sederhana seperti itu cukup banyak mendatangkan komentar kontra dari Bapak-bapak, tetapi cukup sekali sih aku balas, kepada dua orang Bapak yang komentar paling pertama, karena nggak akan ada habisnya jika aku balas semuanya, wkwkwk.
        Aku hanya menuliskan selentingan komentar bahwa "Guru yang pandai akan tahu cara mendisiplinkan anak tanpa menggunakan kekerasan fisik."
        Ada kalimat pepatah yang mengatakan bahwa "Orang pintar akan mengalah dan meninggalkan perdebatan, sedangkan orang bodoh akan terus berargumen dan memperlihatkan kebodohannya tanpa habis."
        Sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW juga agar kita harus menghindari perdebatan meskipun kita tahu bahwa kita benar.
        Sesungguhnya memang kualitas diri seseorang dilihat dari sikap sabarnya dalam menghadapi cobaan. Cobaan terbesar bagi guru adalah anak-anak didiknya yang susah diatur, sedangkan cobaan terbesar bagi orang tua adalah anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkannya dengan susah payah pada akhirnya menunjukkan sikap membangkang.
        Tetapi namanya manusia, tak ada yang sempurna, namun dengan adanya kesadaran diri bahwa didikan dengan kekerasan itu salah, maka lebih banyak terjadi pengendalian dari dalam diri setiap orang tua dan guru daripada membiarkan emosinya meledak-ledak tanpa kendali.
        Sebagian orang tua mengatakan bahwa, "Siapa bilang memukul anak tidak boleh?! Sedangkan Islam mengijinkan memukul anak."
        Islam meminta kita memukul anak sebagai bagian dari peringatan saja (bukan luapan emosi karena kesal), itupun jika anak yang sudah baligh tidak mau solat. Sementara kita memukul anak hanya karena membuat hati kita kesal? Heheheee ...
        Mungkin ada yang akan berkomentar, "TS ini dulu pasti dimanja banget sama orang tuanya, nggak pernah dihajar."
        Siapa bilang?! Adakah orang jaman dulu yang tidak tahu fungsi lainnya hanger dan ikat pinggang kalau bukan untuk memberi pelajaran pada anak-anaknya?
        Sebagai anak-anak yang tumbuh dan berkembang pada tahun 80 sampai 90-an, tentunya Pendidikan ala Kompeni juga sempat aku rasakan, tetapi aku bukan tipikal orang yang mengikuti adat kebiasaan keluarga turun temurun, karena bagiku sepanjang hidup adalah pembelajaran, sedangkan kita saat ini berada di era teknologi informasi dimana pengetahuan bisa diperoleh dari media manapun.
        Bukankah aku adalah orang bodoh dan kuno jika pelajaranku tentang kehidupan ini stuck pada puluhan tahun ke belakang saja? Sorry, aku memang anak-anak pada era itu, tapi aku adalah orang tua modern yang hidup di jaman sekarang ini.
        Aku tidak ingin meneruskan kesalahan yang ada, tetapi justru aku lebih memilih memperbaikinya, mungkin karena aku senang mendengarkan Ilmu Parenting dan mengikuti seminar-seminar yang ada.
        Banyak orang memimpikan hal-hal yang lumrah sejak kecil, seperti bercita-cita ingin menjadi guru, presiden, dan sebagainya, tetapi sejak aku remaja, masih duduk di bangku kelas 2 SMP, aku sangat senang membuat perencanaan untuk berpuluh tahun ke depan, dimana aku ingin sekali menjadi seorang ibu yang mampu mendidik anakku hingga menjadi orang yang sukses.
        Aku ingat sekali bahwa aku sangat ingin memiliki dua anak lelaki dan dua anak perempuan ketika itu dengan gambaran minat dan bakatnya masing-masing, serta investasi yang aku berikan masing-masing pada mereka kelak.
        Alhamdulillah, yang baru tercapai hanyalah aku kini telah menjadi seorang ibu akan dua buah hati yang manis, perempuan dan lelaki, bahkan aku harus menunggu selama dua tahun pernikahan barulah si sulung lahir dan enam tahun pernikahan untuk si bungsu lahir. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini untuk menjadikan anak-anakku sebagai anak-anak yang Percaya Diri, karena kunci dari kepandaian adalah pada anak yang Percaya Diri.
        Sedangkan orang tua, khususnya yang terdekat dengannya adalah kunci dari itu semua. Mereka harus tahu bahwa orang tuanya tersebut adalah orang yang bisa dipercaya dan mempercayai mereka. Tidak sering menertawakan mereka saat mereka bersikap konyol, tidak mempermalukan mereka di depan umum, tidak menganggap mereka bodoh, tidak bersikap kasar pada mereka, dan sebagainya, sehingga mereka yakin bahwa orang tua menyayangi mereka seutuhnya dan memang selalu berpihak pada mereka selama apa yang mereka lakukan adalah hal-hal yang baik.
        Oleh karena itu juga aku selalu khawatir jika anak-anakku yang sudah kubentuk karakternya dengan sangat keras sejak mereka di dalam kandungan, berada di lingkungan anak-anak dengan pola asuh yang salah, karena anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Ya, 80% karakter anak terbentuk dari lingkungan tempat mereka tinggal dan dibesarkan.
        Tetapi syukurnya fondasi yang ada sudah cukup kuat, yaitu meskipun kini dia sudah mulai membantah dan melawan padaku, sudah belajar untuk bersikap tidak peduli padaku, sejak aku hamil adik bungsunya, tapi dia masih bisa aku atasi.
        Sounding itu sangat perlu juga, yaitu memberi sugesti positif untuk dia khususnya pada malam sebelum tidur, seperti menyampaikan bahwa ia selalu membuatku bangga akan sikap baiknya, dan aku senang melihatnya bangun pagi untuk sekolah online dengan semangat, aku bangga akan kepandaiannya yang cepat dalam menyerap pelajaran, dan masih banyak lagi hal-hal positif yang akan tanamkan padanya.
        Ada yang berkata bahwa, Ilmu Parenting itu bullshit, bahkan meremehkan Pola Asuh tanpa kekerasan, karena hanya akan membuat anak menjadi durhaka dan tidak patuh kepada orang tuanya. Katanya mereka sudah mempraktekkan itu dan sama sekali tidak berhasil. Apakah mereka yang berpikiran seperti itu sama sekali tidak mengenal 'konsistensi' dalam mendidik?
        Lalu membandingkan anak orang lain yang di mata mereka jauh lebih hebat daripada anak-anak mereka sendiri. Padahal tentu berbeda, antara karakter anak yang memang berbeda atau pola asuh orang tua si anak yang dianggap hebat tersebut.
        Jika kita tak ada sama sekali niatan untuk merubah pola asuh yang salah karena dianggap sebagai kebenaran, maka selamanya kita tak akan pernah puas terhadap anak-anak kita sendiri dan selalu merasa bahwa anak orang lain jauh lebih memuaskan.
Annisa Tang
Sumber Foto: canva.com
Mana bisa jika kita hanya mempraktekkan dalam satu hari ilmu yang sudah kita dapat, lalu berharap dunia berubah karenanya? - Annisa Tang - 

 

        Itu sebabnya mengapa aku katakan bahwa menerapkan ilmu itu butuh kerja keras dan kesabaran yang ekstra, apalagi jika anak itu sudah telanjur rusak oleh lingkungan dan pola asuh yang salah sejak mereka baru dilahirkan, akan lebih susah untuk memperbaikinya.
        Bukan seperti sihir yang bisa terjadi dalam sekejap mata saja, karena anak-anak terus berkembang, mereka memiliki 20 persen karakter bawaan sedangkan 80 persen adalah pengaruh lingkungan (orang tua, keluarga, teman-temannya).
        Mood anak-anak juga mudah berubah, dan orang tua harus paham itu. Karena mood orang tua yang selisih usia 20 hingga 30 tahun dari anak mereka saja mood-nya juga mudah berubah, lalu mengapa kita tidak bisa bersikap maklum kepada anak-anak?
        Daripada kita berteriak dan memukul anak-anak yang mood-nya sedang berubah saat belajar, mengapa kita tidak menggunakan cara yang lain seperti tetap bersikap sabar, mencari cara untuk memperbaiki mood mereka, bukan malah memarahi dan membuat mood-nya semakin buruk.
        Bersikap bijaksana itu memang prakteknya tidak semudah teorinya, tetapi jika setiap orang ingin tahu sebijaksana apa diri mereka, bisa dilihat dari cara mereka mengasuh anak-anaknya
        Kemudian jika ingin tahu apakah Ilmu Parenting yang sempat dipelajari berjalan efektif atau tidak, maka setiap orang tua harus benar-benar menyelami perannya dengan baik sebagai orang tua yang sesungguhnya, bersikap konsisten dalam menjalankannya sepanjang kehidupan mereka berdampingan dengan anak-anak mereka.