-->

Pola asuh ala militer sejak jadul

Haiiii... 💕


Mami keceh stay tuned! ☺
Saya mau cerita sedikit nih kejadian kemarin. Aisyah kan baru beli mainan, dibelikan sama JiEm (Mami saya) nya, begitupun sepupu-sepupunya, Sachio dan Aylin. Tapi seperti biasa, mainan Aisyah yang dijajah dahulu sampai terselip beberapa bagian. Saya tegur Sachio, dan seperti biasa Sachio selalu berteriak marah, Sachio anak yang pemarah, yah mungkin juga karena dia merasa teriakan dan bentakan itu sudah biasa. Jujur, sangat biasa di rumah tempat saya dibesarkan berisi teriakan, bentakan, dan pukulan terhadap anak yang melawan.
Saya pun bercandain Sachio dengan memegang tangannya, dan mengetek pelan telinganya. Kalau saya bertujuan mengetek keras telinganya, tanpa memegang kedua tangannya pun bisa dilakukan. Nah, pas JiEm nya datang, pas juga Sachio sedang saya pegang kedua tangannya, dan berteriak membentak saya. Entah mengapa, emosi JiEm tersulut, atau mungkin karena terlalu sayang dan khawatir saya sungguhan mengasari ponakkan saya tersebut. Langsung saja JiEm mengatakan "Anak kurang ajar, ngga boleh bentak-bentak orang tua!" dan mengambil hanger untuk memukul betisnya.

Duh bagaimana yaa, saya jadi merasa bersalah dan menyesal sekali. Meskipun dipukul, Sachio tetap berteriak marah-marah membentak JiEm nya... dan saya rasa dia tidak akan berhenti berteriak jika tetap diperlakukan seperti itu.

Saya ngga ingin jadi pahlawan kesiangan di hadapan ponakkan saya, karena sudah beda pengasuhan, ponakkan-ponakkan saya memang diasuh oleh kakek - neneknya (orang tua saya) karena kedua orang tuanya menikah dini dan bercerai dini akibat salah pergaulan sehingga menjadi orang tua yang lepas tanggung jawab terhadap anak-anaknya.

Mami saya tak akan berhenti memukul jika Sachio belum mengeluarkan kata pengampunan, sedangkan Sachio cukup keras kepala untuk itu. Akhirnya ya saya buka suara juga, "Dia cuma anak 5 tahun, dapat mengucapkan maaf pun belum tentu paham artinya. Sudahlah. Anis tadi kan hanya bercanda."

Tapi JiEm tetap tak peduli dan mengharapkan permintaan maaf dari Sachio ... karena tetap menolak, Sachio dimasukkan ke kamar mandi gelap agar takut dan memohon, tapi Sachio tetap menolak minta maaf, bahkan terus berteriak sambil menggedor pintu kamar mandi. Saya pun meminta tolong agar Sachio dikeluarkan dari kamar mandi agar tidak trauma. Sampai si JiPi (papa saya) bilang kalau pintu kamar mandi bisa pecah, barulah Sachio dikeluarkan oleh JiEm nya, tapi JiEm nya balik memarahi saya, "Kenapa sih kamu ikut campur terus!!! Dia ini di bawah pengasuhan saya!!!"

Memang saya salah juga, tapi bagaimana ya ... saya kan hanya ingin memperbaiki sistem pengasuhan yang diterapkan oleh mereka dulu. Berbagai artikel parenting yang saya baca, pasti saya share dan tag juga kedua orang tua saya di Facebook, tapi entahlah dibaca atau tidak. Yang saya tahu, Mami saya memang punya kliping berbagai macam artikel dari resep, kecantikan, sex, psikologi, parenting yang beliau kumpulkan dari majalah-majalah terutama Majalah Femina.

"Saya hanya pukul, tidak akan membunuhnya!!" Begitu kata mami saya. Beliau kalau mengamuk serem, bisa satu kampung mendengar suaranya, membuat saya malas berdebat, tapi efek keras kepala saya juga, tetap saja menjawab sedikit-sedikit, "Anis kan suka baca artikel parenting.". Mungkin salah penyampaian saya, beliau semakin marah dan berkata, "Apa kurangnya saya membaca?!". Duh lagi-lagi mulut saya tidak bisa direm, "Kalau begitu kenapa tidak dipraktekkan?"

Bukannya tambah reda marahnya, beliau makin emosi dan menunjuk-nunjuk saya di depan para ponakkan dan anak saya, tapi ya sudahlah, yang penting melupakan untuk memukul Sachio kembali, hihihiiii. "Kamu merasa gagal sekali kah saya didik!!! Kenapa selalu ikut campur sama pola asuh saya! Kamu ibu kemarin sore mau ngajarin saya!!!"

Saya pun berkata dengan nada biasa saja, "Katanya kalau anak dibesarkan dengan kekerasan, besarnya bisa kasar, apalagi anak lelaki yang nanti beristri.".

"Adik-adik lelaki saya adakah yang memukul dan kasar pada istrinya! Mereka dibesarkan dengan pukulan semua!" Konon berdasarkan cerita dari Mami saya, kakek dan nenek saya membesarkan anak-anaknya dengan keras. Tapi entahlah, memang ke 8 paman dan bibi saya tidak ada yang menjadi keras seperti orang tuanya selain Mami saya. Hanya Mami saya yang mendidik anak dan cucunya dengan pukulan juga.

Susah juga ya? Mami saya bukan tipe pendengar yang baik. Saya sudah dewasa seperti ini pun, ketika sedang bercerita dengan semangat sambil ceria kepada Mami saya, tanggapan beliau sungguh di luar prediksi dan membuat hati seketika kecewa. "Cerita yang lain saja, Mami tidak tertarik!"

Saya dan adik saya juga dibesarkan dengan pukulan. Mungkin sama lah dengan Sachio, saya juga sangat melawan dengan Mami saya, sedangkan orang tua saya pola asuhnya hanya difokuskan pada "anak dilarang keras membantah orang tua".

Beliau punya rasa khawatir yang berlebihan akan memiliki anak yang durhaka, Sejauh ini, Aisyah yang saya besarkan sangat minim kekerasan, justru tidak begitu membantah saya, masih dalam taraf bisa dikendalikan.

Saya masih ingat, ketika saya SD, entah karena alasan apa, Mami saya mengamuk tidak karuan dan merobek-robek gaun renda berwarna putih kesayangan saya yang sebenarnya beliau jahit untuk saya juga, sampai saya menangis sedih ngumpet dalam lemari. Bayangkan, sudah lewat 20 tahun, tapi masih membekas dalam ingatan saya.

Tahun 90an
Baju kesukaanku saat itu.

Papa saya hampir tidak pernah memarahi saya apalagi memukul, tapi saya masih ingat ketika SMP, mungkin karena saya membantah Mami saya juga, habis dipukul oleh Mami saya, Papa pun tersulut emosi dan menginjak-injak saya. Hanya sekali dan saya masih mengingatnya. Setelah menghajar saya, biasanya Mami akan ngambek di ruang tamu dan Papa merayu saya untuk meminta maaf pada Mami saya.

Mami saya keras, tapi selalu bertanya heran, "Entah kamu ini keras kepala nurun siapa?" 😆😆😆

Ketika kami sedang berjalan-jalan dalam satu mobil, dalam keadaan biasa saja nih, tanpa emosi, kalimat "kamu ini kok bodoh betul", "ya ampun bodohnya", "kok bisa begitu bodoh", sudah biasa diucapkan kepada anak dan cucunya. Seperti biasa juga, saya berbisik, "Jangan dibilangin bodoh terus, nanti bodoh beneran.". Mami saya hanya menghela nafas, "Hmm, capek juga ya?"

Heheheheee, ya mengasuh anak kan memang melelahkan, banyak hal yang perlu dikendalikan. Ucapan, hati, emosi, dsb. Saya pun hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari emosi, tetapi karena percaya bahwa ada yang sebaiknya tidak dilakukan kepada anak, maka sering kali ada pengendalian dari dalam diri, bukannya sering kali lepas kendali diri.

Tapi memang agak susah jika hanya memberikan teori kepada mereka, kecuali sudah ada bukti yang real. Seperti kata Mami saya, bahwa saya ini kan hanya 'ibu kemarin sore'. Kecuali anak saya sudah jadi 'seseorang'. Para psikolog pun dianggap hanya bisa berteori tapi ngga ada buktinya. Bahkan contoh 'Ayah Edy mensukseskan anak orang yang dicap bodoh' pun tidak bisa menggerakkan hati mereka, Disuruh ikut seminar parenting dianggap hanya membuang-buang waktu karena mereka orang yang sudah sangat berpengalaman. Hmm ...

Sebenarnya kasihan juga orang tua saya. Di usia yang sudah tua seperti itu masih harus mengurus anak balita yang super aktif karena orang tua anak-anak itu tidak bertanggung-jawab. Bahkan orang tua saya pyur menafkahi kedua anak manusia itu.

Ketika orang tua anak-anak itu mau bercerai, orang tua saya bertanya, "Anak-anak kalian bagaimana?"

Anak-anak muda yang belum pantas menjadi orang tua itu tinggal berkata, "Taruh saja di Panti Asuhan.". Duhh, betapa jawaban yang sangat laknat.

Adik saya lelaki, tidak bekerja, punya studio tattoo, tapi kalau dapat job bukannya memikirkan anak-anaknya malah sibuk menghidupi teman-temannya di studio. Lagipula studio tattoo dimanfaatkannya menjadi hobby saja, bukan ladang khusus mencari uang. Adik saya bukanlah adik kandung, ia kami adopsi ketika berusia 15 hari.

Mantan istrinya, lahir dari ibu yang tanpa ayah, sehingga dari lahir ia tidak mengenal ayahnya sendiri, riwayat pernikahan ibunya pun penuh dengan kawin-cerai dan pergaulan bebas. Konon mantan istri adik saya tersebut pergi bekerja ke Pekanbaru.

Orang tua sayalah yang mengasuh anak-anak balita tersebut di usia yang sudah hampir 60 tahun Mami saya dan Papa saya berusia 70 tahun. Saya juga sayang dengan ponakkan-ponakkan saya tersebut, tapi mereka terlalu lengket dengan orang tua saya karena sudah dari bayi bersama mereka, dan hubungan saya dengan mantan adik ipar saya juga tidak baik karena dulu dia sempat bersikap semena-mena dengan orang tua saya sehingga masih ragu mau mengambil alih anak-anaknya karena tentu akan menyulitkan saya jika kelak ibunya mau bertemu anak-anaknya.

Saya masih ingat dulu ketika saya belum menikah, masih tinggal bersama orang tua saya, adik dan adik ipar serta para ponakkan saya. Orang tua saya sedang pergi keluar rumah, biasanya Mami saya yang bantu mengurus Sachio (ketika itu Aylin belum lahir), kala itu adik saya sedang di studio tattoo nya dan saya berada di kamar saja (wong saya lajang).

Ternyata si adik ipar ini kerepotan ngurus Sachio poop trus sekaligus mandiin, jadilah dia berteriak stres dari kamar mandi memanggil adik saya. Tergopoh-gopohlah saya dan adik saya datang. Di depan mata saya si Sachio yang masih telanjang diserahkan dengan kasar ke tangan adik saya, kemudian dia sibuk mengamuk tanpa rasa sungkan pada saya, kakak iparnya. Bahkan ketika tengah malam ketika dia sedang berantem dengan adik saya, dia berani menggedor kamar orang tua saya dan mengambil paksa anaknya yang masih terlelap di samping Mami saya.

Jadi para ponakkan saya itu sebenarnya sungguh butuh penanganan psikolog mengingat riwayat mereka terlahir di keluarga Broken Home dan diasuh oleh kakek-nenek yang tidak paham dengan parenting, terutama Sachio yang dengan sangat jelas menyaksikan pertengkaran fisik dan mental kedua orang tuanya sejak bayi. Saat Sachio masih berusia 3 bulan, mamanya sudah hamil adik perempuannya.

Pernah saya ingatkan kedua orang tua saya agar memikirkan perkembangan psikologi anak-anak itu, Mami saya hanya berkata, "Sudah takdir."

Memang sudah takdir anak-anak itu terlahir dari orang tua Broken Home, tetapi yang belum terjadi hendaknya dicegah dari sekarang. Bukan demi saya, tetapi demi anak-anak itu. Kalau mereka sukses juga belum tentu ingat pada saya, tetapi pasti ingat pada kedua orang yang mengasuh dan membesarkan mereka yaitu kedua orang tua saya.

Kekerasan hanya menyisakan duka di hati hingga mereka dewasa. Anak-anak tidak akan pernah lupa perlakuan yang ia peroleh dari orang tuanya, perlakuan baik maupun perlakuan buruk.

Bismillah ... jalan kita masih panjang. Doa saya selalu yang terbaik untuk anak-anak dan ponakkan-ponakkan saya. Aamiin yaa Rabb.

Happy Birthday My Dear Sachio ... (hari ini)

You Might Also Like

2 comments