Menerapkan Pola Asuh Anak Tanpa Kekerasan - Bukti Kebijaksanaan Orang Tua

Sumber Foto: medium.com

        Berkaca pada peristiwa masa lalu dimana para orang tua memberlakukan hukuman fisik terhadap anak mereka. Mulai dari hanger, ikat pinggang, rotan, bahkan sapu lidi menjadi koleksi yang paling ditakuti oleh anak-anak jaman dulu, yaitu tahun 2000 ke bawah, dimana anak tahun 90-an mungkin generasi terakhir yang tahu rahasia umum ini, saksi hidup keganasan orang tua jaman sebelumnya.
        Bahkan di forum-forum atau grup umum pada laman Sosial Media, sebagian netizen menceritakan dengan bangganya kejadian masa lalu yang mereka alami, termasuk saat ada berita tentang seorang guru yang dituntut oleh orang tua murid karena menerapkan hukuman fisik pada anak mereka, selalu saja ada netizen yang berkomentar, "Kalau dulu aku dipukul guruku, pulang-pulang malah ditambahin oleh Mamakku.".
        Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan bahwa, "Jika sebuah sistem berjalan salah atau tidak semestinya, maka sudah seharusnya jika sistem itu dibenahi, bukan malah meneruskan sistem yang salah tersebut."
        Orang tua jaman dahulu hanya berfokus pada cara dimana agar seorang anak tidak berdaya upaya untuk membantah dan melawan kepada orang tuanya, agar mereka kelak tidak menjadi anak yang durhaka, sayangnya masih minim ilmu sehingga mereka hanya memiliki satu jalan yaitu melakukan hukuman fisik sebagai efek jera.
        Hukuman fisik yang mungkin tidak melukai tubuh seorang anak tetapi dapat melukai hati dan jiwa seorang anak seumur hidup mereka.
        Padahal jika hukuman fisik diperbolehkan dalam memperbaiki anak-anak yang 'rusak', mungkin tugas guru BP bukan untuk merangkul anak-anak yang bermasalah agar dapat menjadi baik, melainkan menghajarnya saja agar mereka tidak mengulangi kesalahannya, hehehe.
        Tak usah ada lagi penjara, setiap yang berbuat kejahatan, langsung dimatiin saja agar 'calon penjahat' lainnya jera, meski hanya kesalahan kecil yang mereka perbuat, seperti mencuri singkong di pekarangan kebun tetangga misalnya.
        Tetapi kini jaman sudah berubah, informasi mudah didapatkan dimana saja, para orang tua baru dapat memperkaya ilmu langsung melalui ahlinya dari media-media terpercaya sehingga seharusnya mampu menyaring didikan orang tua jaman dahulu, yang baik diikuti sedangkan yang sudah diketahui tidak benar hendaknya jangan diterus-teruskan.
        Baru-baru ini saya sempat berdebat kecil dengan golongan 'Bapak-bapak' yang ingin sekali anak-anaknya didisiplinkan guru dengan cara dihajar. Entah dendam terselubung mungkin karena waktu kecilnya sering dihantam oleh gurunya sehingga ingin balas dendam kepada anak-anaknya, ataukah memang ada kelainan jiwa yang senang saja melihat anaknya disiksa guru. Hehehe.
        Berawal dari postingan seorang Bapak yang mengatakan bahwa "Dulu guru dipolisikan orang tua karena mendisiplinkan anak, sekarang selamat mencoba mendidik anak di rumah. Semoga Berhasil!".
        Aku berkomentar hal yang benar, namun ternyata dianggap salah oleh sebagian bapak yang bermimpi anaknya kelak didisiplinkan guru dengan cara dihajar (mungkin, berdasarkan isi komentar dia sendiri).
        "Yang dipolisikan itu guru yang melakukan kekerasan fisik kan ya? Mendisiplinkan seorang anak tidak harus menggunakan kekerasan fisik." Begitu kira-kira isi komentarku.
        Ternyata komentar sederhana seperti itu cukup banyak mendatangkan komentar kontra dari Bapak-bapak, tetapi cukup sekali sih aku balas, kepada dua orang Bapak yang komentar paling pertama, karena nggak akan ada habisnya jika aku balas semuanya, wkwkwk.
        Aku hanya menuliskan selentingan komentar bahwa "Guru yang pandai akan tahu cara mendisiplinkan anak tanpa menggunakan kekerasan fisik."
        Ada kalimat pepatah yang mengatakan bahwa "Orang pintar akan mengalah dan meninggalkan perdebatan, sedangkan orang bodoh akan terus berargumen dan memperlihatkan kebodohannya tanpa habis."
        Sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW juga agar kita harus menghindari perdebatan meskipun kita tahu bahwa kita benar.
        Sesungguhnya memang kualitas diri seseorang dilihat dari sikap sabarnya dalam menghadapi cobaan. Cobaan terbesar bagi guru adalah anak-anak didiknya yang susah diatur, sedangkan cobaan terbesar bagi orang tua adalah anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkannya dengan susah payah pada akhirnya menunjukkan sikap membangkang.
        Tetapi namanya manusia, tak ada yang sempurna, namun dengan adanya kesadaran diri bahwa didikan dengan kekerasan itu salah, maka lebih banyak terjadi pengendalian dari dalam diri setiap orang tua dan guru daripada membiarkan emosinya meledak-ledak tanpa kendali.
        Sebagian orang tua mengatakan bahwa, "Siapa bilang memukul anak tidak boleh?! Sedangkan Islam mengijinkan memukul anak."
        Islam meminta kita memukul anak sebagai bagian dari peringatan saja (bukan luapan emosi karena kesal), itupun jika anak yang sudah baligh tidak mau solat. Sementara kita memukul anak hanya karena membuat hati kita kesal? Heheheee ...
        Mungkin ada yang akan berkomentar, "TS ini dulu pasti dimanja banget sama orang tuanya, nggak pernah dihajar."
        Siapa bilang?! Adakah orang jaman dulu yang tidak tahu fungsi lainnya hanger dan ikat pinggang kalau bukan untuk memberi pelajaran pada anak-anaknya?
        Sebagai anak-anak yang tumbuh dan berkembang pada tahun 80 sampai 90-an, tentunya Pendidikan ala Kompeni juga sempat aku rasakan, tetapi aku bukan tipikal orang yang mengikuti adat kebiasaan keluarga turun temurun, karena bagiku sepanjang hidup adalah pembelajaran, sedangkan kita saat ini berada di era teknologi informasi dimana pengetahuan bisa diperoleh dari media manapun.
        Bukankah aku adalah orang bodoh dan kuno jika pelajaranku tentang kehidupan ini stuck pada puluhan tahun ke belakang saja? Sorry, aku memang anak-anak pada era itu, tapi aku adalah orang tua modern yang hidup di jaman sekarang ini.
        Aku tidak ingin meneruskan kesalahan yang ada, tetapi justru aku lebih memilih memperbaikinya, mungkin karena aku senang mendengarkan Ilmu Parenting dan mengikuti seminar-seminar yang ada.
        Banyak orang memimpikan hal-hal yang lumrah sejak kecil, seperti bercita-cita ingin menjadi guru, presiden, dan sebagainya, tetapi sejak aku remaja, masih duduk di bangku kelas 2 SMP, aku sangat senang membuat perencanaan untuk berpuluh tahun ke depan, dimana aku ingin sekali menjadi seorang ibu yang mampu mendidik anakku hingga menjadi orang yang sukses.
        Aku ingat sekali bahwa aku sangat ingin memiliki dua anak lelaki dan dua anak perempuan ketika itu dengan gambaran minat dan bakatnya masing-masing, serta investasi yang aku berikan masing-masing pada mereka kelak.
        Alhamdulillah, yang baru tercapai hanyalah aku kini telah menjadi seorang ibu akan dua buah hati yang manis, perempuan dan lelaki, bahkan aku harus menunggu selama dua tahun pernikahan barulah si sulung lahir dan enam tahun pernikahan untuk si bungsu lahir. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini untuk menjadikan anak-anakku sebagai anak-anak yang Percaya Diri, karena kunci dari kepandaian adalah pada anak yang Percaya Diri.
        Sedangkan orang tua, khususnya yang terdekat dengannya adalah kunci dari itu semua. Mereka harus tahu bahwa orang tuanya tersebut adalah orang yang bisa dipercaya dan mempercayai mereka. Tidak sering menertawakan mereka saat mereka bersikap konyol, tidak mempermalukan mereka di depan umum, tidak menganggap mereka bodoh, tidak bersikap kasar pada mereka, dan sebagainya, sehingga mereka yakin bahwa orang tua menyayangi mereka seutuhnya dan memang selalu berpihak pada mereka selama apa yang mereka lakukan adalah hal-hal yang baik.
        Oleh karena itu juga aku selalu khawatir jika anak-anakku yang sudah kubentuk karakternya dengan sangat keras sejak mereka di dalam kandungan, berada di lingkungan anak-anak dengan pola asuh yang salah, karena anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Ya, 80% karakter anak terbentuk dari lingkungan tempat mereka tinggal dan dibesarkan.
        Tetapi syukurnya fondasi yang ada sudah cukup kuat, yaitu meskipun kini dia sudah mulai membantah dan melawan padaku, sudah belajar untuk bersikap tidak peduli padaku, sejak aku hamil adik bungsunya, tapi dia masih bisa aku atasi.
        Sounding itu sangat perlu juga, yaitu memberi sugesti positif untuk dia khususnya pada malam sebelum tidur, seperti menyampaikan bahwa ia selalu membuatku bangga akan sikap baiknya, dan aku senang melihatnya bangun pagi untuk sekolah online dengan semangat, aku bangga akan kepandaiannya yang cepat dalam menyerap pelajaran, dan masih banyak lagi hal-hal positif yang akan tanamkan padanya.
        Ada yang berkata bahwa, Ilmu Parenting itu bullshit, bahkan meremehkan Pola Asuh tanpa kekerasan, karena hanya akan membuat anak menjadi durhaka dan tidak patuh kepada orang tuanya. Katanya mereka sudah mempraktekkan itu dan sama sekali tidak berhasil. Apakah mereka yang berpikiran seperti itu sama sekali tidak mengenal 'konsistensi' dalam mendidik?
        Lalu membandingkan anak orang lain yang di mata mereka jauh lebih hebat daripada anak-anak mereka sendiri. Padahal tentu berbeda, antara karakter anak yang memang berbeda atau pola asuh orang tua si anak yang dianggap hebat tersebut.
        Jika kita tak ada sama sekali niatan untuk merubah pola asuh yang salah karena dianggap sebagai kebenaran, maka selamanya kita tak akan pernah puas terhadap anak-anak kita sendiri dan selalu merasa bahwa anak orang lain jauh lebih memuaskan.
Annisa Tang
Sumber Foto: canva.com
Mana bisa jika kita hanya mempraktekkan dalam satu hari ilmu yang sudah kita dapat, lalu berharap dunia berubah karenanya? - Annisa Tang - 

 

        Itu sebabnya mengapa aku katakan bahwa menerapkan ilmu itu butuh kerja keras dan kesabaran yang ekstra, apalagi jika anak itu sudah telanjur rusak oleh lingkungan dan pola asuh yang salah sejak mereka baru dilahirkan, akan lebih susah untuk memperbaikinya.
        Bukan seperti sihir yang bisa terjadi dalam sekejap mata saja, karena anak-anak terus berkembang, mereka memiliki 20 persen karakter bawaan sedangkan 80 persen adalah pengaruh lingkungan (orang tua, keluarga, teman-temannya).
        Mood anak-anak juga mudah berubah, dan orang tua harus paham itu. Karena mood orang tua yang selisih usia 20 hingga 30 tahun dari anak mereka saja mood-nya juga mudah berubah, lalu mengapa kita tidak bisa bersikap maklum kepada anak-anak?
        Daripada kita berteriak dan memukul anak-anak yang mood-nya sedang berubah saat belajar, mengapa kita tidak menggunakan cara yang lain seperti tetap bersikap sabar, mencari cara untuk memperbaiki mood mereka, bukan malah memarahi dan membuat mood-nya semakin buruk.
        Bersikap bijaksana itu memang prakteknya tidak semudah teorinya, tetapi jika setiap orang ingin tahu sebijaksana apa diri mereka, bisa dilihat dari cara mereka mengasuh anak-anaknya
        Kemudian jika ingin tahu apakah Ilmu Parenting yang sempat dipelajari berjalan efektif atau tidak, maka setiap orang tua harus benar-benar menyelami perannya dengan baik sebagai orang tua yang sesungguhnya, bersikap konsisten dalam menjalankannya sepanjang kehidupan mereka berdampingan dengan anak-anak mereka.

You Might Also Like

2 komentar