Program Langit Biru - Bentuk Partisipasi Masyarakat Terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup

Program Langit Biru
Program Langit Biru
Bentuk Partisipasi Masyarakat Terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup

"Jika Sang Bumi bisa bicara, kutahu ia akan bertanya, sampai kapankah kau hanya akan terima, tanpa pernah beri kembali. Kini saatnya untuk berbuat, memberi apa yang dia butuhkan, Tanah Air Udara kan bersuka, hidup harmoni tetap terjaga."

        Sebuah lirik lagu dari penyanyi Indonesia bernama Agustinus Gusti Nugroho atau yang biasa kita kenal dengan nama Nugie, seorang musisi sekaligus penyanyi yang selalu menunjukkan kecintaannya akan alam melalui lagu ini, sungguh membuat hati saya yang mendengarnya ikut menangis.
            Sampai kapankah kita hanya terima, tanpa pernah memberi kembali?
            Kebetulan lagu yang berjudul 'Jika Bumi Bisa Bicara' tersebut, adalah duet beliau dengan Sang Kakak yang juga musisi Indonesia bernama Katon Bagaskara, dalam rangka menggalang donasi untuk Bumi Indonesia. Kakak beradik ini memang sangat kompak mengkampanyekan tentang 'alam kita' kepada masyarakat luas melalui lagu.
            Khususnya Nugie sendiri yang memang aktif dalam kegiatan sosial, terutama yang berhubungan dengan kemanusiaan, kebudayaan, dan penyelamatan lingkungan hidup.
            Tapi saya bukan Nugie, yang bisa menciptakan lagu dengan sangat baik dan bernyanyi dengan sangat indah. Saya adalah seorang ibu rumah tangga yang mengisi keseharian dengan berbagi hal apapun yang saya tahu melalui tulisan.
            Setiap orang memiliki passion-nya masing-masing, tetapi baik kalian yang produktif maupun yang konsumtif, dalam hal apapun, tetap dapat mengambil peranannya dalam pelestarian lingkungan hidup.
            Kembali lagi soal Nugie, yang kesehariannya memilih untuk bersepeda daripada menggunakan kendaraan bermotor, demi mewujudkan Langit Biru bebas polusi. Namun, tak bisa dipungkiri juga, jaman yang sudah semakin maju, kebutuhan mobilitas yang semakin meningkat, membuat hampir setiap orang lebih akrab menggunakan kendaraan bermotor untuk cepat dapat sampai ke tujuan.
            Lalu, apakah pupus niat kita untuk turut bergotong-royong mewujudkan Langit Biru, ketika kita sebagai masyarakat masih menggunakan kendaraan yang membutuhkan bahan bakar?

Masyarakat Perlu Edukasi, Sementara Pemerintah Perlu Motivasi Untuk Menjadi Jembatan Antara Masyarakat dan Lingkungan Hidup

            Pada Hari Rabu Tanggal 10 Maret 2021, saya mengikuti diskusi yang sangat menarik dengan tema 'Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru' yang diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama dengan Kantor Berita Radio (KBR). Selain perwakilan dari YLKI dan KBR sendiri, acara ini juga dihadiri oleh dinas-dinas pemerintah di daerah, Nugie, beberapa influencer milenial, dan sebagainya.
            Sebenarnya acara sudah dimulai sejak Hari Selasa Tanggal 09 Maret 2021, dalam rangka Media Gathering terlebih dahulu, kemudian barulah pada hari Rabu ini digali lebih dalam mengenai Program Langit Biru yang sebenarnya sudah dicanangkan sejak Tanggal 6  Agustus 1996 oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, yaitu mengenai BBM yang ramah lingkungan.
            Sesuai namanya, YLKI mengemban tugas untuk melindungi hak-hak dan kewajiban konsumen yang tercantum dalam Pasal 44 Ayat 3 UU Perlindungan Konsumen.
            Pak Tulus, perwakilan dari YLKI, sebagai narasumber pembuka acara menyatakan bahwa BBM yang kita gunakan harusnya sudah standar Euro atau BBM ramah lingkungan sejak seperempat abad yang lalu tersebut (Tahun 1996). Meski sudah ada yang sadar untuk menggunakan Euro 2, tapi jumlahnya sedikit, sementara kita juga masih bergelut dengan Premium yang berupa RON 88.
            Pernyataan itu juga dikuatkan dengan tanggapan secara langsung oleh Ibu Ratna Kartikasari, perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada sesi webinar yang sama.
            RON (Research Octane Number) 88 atau dikenal juga dengan nama Oktan 88 merupakan bahan bakar yang masih cukup besar kandungan Heptana di dalamnya. Semakin tinggi nilai Iso-oktana, maka semakin bagus kualitas bahan bakar yang digunakan, karena hasil buangan dari kendaraan atau polusi juga semakin sedikit.
            Iso-oktana atau dikenal juga dengan nama Petana merupakan kandungan senyawa dari bensin yang mudah terbakar, sedangkan Heptana adalah kandungan Hidrokarbon yang terdapat pada bensin. 
            Misalnya saja, kendaraan yang memiliki standar kebutuhan bahan bakar dengan minimal RON 92, ketika dipaksakan menggunakan Premium yang hanya merupakan RON 88, maka mesin dari kendaraan pribadi yang kita sayangi itupun akan menjerit. Itu terjadi karena penumpukkan kerak karbon yang menyebabkan emisi gas tidak terbuang dengan sempurna.
           Orangtua saya sendiri tak pernah mau menggunakan Premium untuk kendaraan pribadinya, minimal yang beliau gunakan adalah Pertalite. Sebagai orang awam, beliau menjelaskan alasannya, yaitu karena beliau merasa bahwa ketika menggunakan Premium, bensinnya boros atau lebih cepat habis, sementara mesin kendaraannya juga terdengar lebih kasar bekerja. Padahal beliau menggunakan kendaraan roda 4 manual, keluaran tahun 2010, dalam artian produksi lama.
            Jadi sebenarnya yang disiksa duluan oleh BBM yang tidak tepat guna adalah kendaraan itu sendiri, yang kemudian hasil pembuangannya membuat udara di sekitar kita menjadi tercemar.
            Sedangkan mobil keluaran terbaru sesungguhnya sudah standar Euro (European Emission), meski masih ada beberapa kendaraan di Indonesia yang menggunakan standar mesin dengan minimal pengisian bahan bakar RON 90 (Pertalite).
            Mengikuti peraturan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor 20 /Setjen/Kum.1/3//2017 tanggal 10 Maret 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O, sebenarnya standar kendaraan sudah harus menggunakan Euro 4.
            Dituturkan juga oleh Pak Tulus, ketika Pak Presiden Jokowi menyatakan niatnya kepada Vietnam untuk melakukan ekspor kendaraan kita ke sana, Presiden Vietnam menjawab dengan santai, "Silakan Pak Presiden, asal kendaraannya sudah memenuhi standar emisi kami, yaitu Euro 4."
            Tentu saja tidak bisa karena kendaraan kita, paling tinggi masih menggunakan standar minimal emisi Euro 2, jadi masih sangat tertinggal.
            Negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara ternyata sudah sangat memperhatikan lingkungan hidupnya sehingga memberlakukan dengan tegas standar minimal emisi BBM yang cukup tinggi, meski standar emisi BBM sendiri sebenarnya sudah mencapai Euro 6.
            KLHK pun masih terus mengupayakan agar Program Langit Biru berjalan dengan baik dan lancar, melalui himbauan serta peraturan tegas mengenai penggunaan Bahan Bakar Minyak kendaraan yang ramah lingkungan.
            Sementara dari sisi GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), berdasarkan penuturan Ibu Ratna Kartikasari, sebenarnya sebelum tahun 2017 mereka sudah harus memproduksi 2 tipe kendaraan yaitu kendaraan dengan kondisi Euro 2 untuk dipasarkan di dalam negeri, dan Euro 4 untuk ekspor. Tetapi kendalanya adalah nilai investasi untuk memproduksi dua jenis kendaraan tersebut terlalu besar bagi GAIKINDO sehingga mereka juga mendesak KLHK menerbitkan peraturan yang dikhususkan untuk Euro 4 ini, tidak ada lagi Euro 2.
            Dilansir pada laman gaikindo.or.id, Uni Eropa (European Union-EU) memang sudah menempuh cara menggunakan teknologi transportasi yang lebih ramah lingkungan sebagai upayanya untuk mengurangi emisi, yaitu bertahap dalam memperketat peraturan menjadi standar Euro 2 (1996), Euro 3 (2000), Euro 4 (2005), Euro 5 (2009) dan Euro 6 (2014).

BBM di Dunia
Indonesia masih sangat tertinggal.
            Sebenarnya di negara kita sudah mulai ada upaya dalam memenuhi standar Euro 4, yaitu Pertamax Turbo dengan RON 98, yang merupakan peningkatan dari Pertamax Plus dengan RON 95, dan kini bisa didapatkan di beberapa SPBU Pertamina. Sedangkan pertamax dengan RON 92 atau standar Euro 2, bisa didapatkan di setiap SPBU Pertamina.
            Hanya saja masyarakat masih diberikan pilihan lain yang memiliki angka lebih rendah dari itu sehingga tergantung pada kebijakkan masing-masing masyarakat lagi sebagai konsumen.
            Pertamax sangat direkomendasikan untuk digunakan pada kendaraan dengan kompresi rasio 10:1 hingga 11:1 atau kendaraan berbahan bakar bensin yang menggunakan teknologi setara dengan Electric Fuel Injection (EFI).
            EFI merupakan sebuah sistem yang dirancang untuk mengontrol jumlah bahan bakar (Fuel) yang akan diinjeksikan ke dalam ruang bakar agar perbandingannya sesuai dengan jumlah udara yang masuk, sehingga pembakaran menjadi sempurna.
            Pertamax dinyatakan dapat membersihkan bagian dalam mesin, dilengkapi dengan pelindung anti karat pada dinding tangki kendaraan, saluran bahan bakar dan ruang bakar mesin, juga mampu menjaga kemurnian bahan bakar dari campuran air.
            Pembakaran yang tidak sempurna membuat kendaraan menghasilkan emisi berbahaya yang dibuang oleh kendaraan melalui knalpot ke udara. Pada beberapa kasus bahkan asap yang dihasilkan sudah terlihat mengepul hitam dan kendaraan mengeluarkan bunyi mesin yang kasar, sehingga kendaraannya tersebut dinyatakan sebagai kendaraan yang sudah tidak layak jalan, namun karena kebutuhan, kadang beberapa oknum masih nekad untuk menggunakannya.
            Hal tersebut mengakibatkan udara kita tercinta menjadi tercemar, tak dihirup dapat kehilangan nyawa, dihirup pun ada kemungkinan dapat membuat nyawa melayang.

BBM di Indonesia
Penjelasan ringkas, tentang standar BBM sesuai dengan spesifikasi kendaraan yang digunakan.
            Dilansir oleh bbc.com, bahwa lebih dari 5,5 Juta penduduk dunia setiap tahunnya yang meninggal lebih cepat, diakibatkan karena polusi udara. Penyebab utamanya adalah emisi partikel kecil dari pembangkit listrik, pabrik, asap kendaraan, dan pembakaran batu bara, serta kayu. Data yang dikumpulkan tersebut merupakan bagian dari Global Burden of Disease project. Menghirup partikel kecil larutan atau padat, dapat menyebabkan meningkatnya resiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, masalah pernafasan, bahkan kanker.
           Sampai di sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa penggunaan Premium sebagai bahan bakar kendaraan bukan hanya merugikan bagi kendaraan pribadi kita, alam, melainkan juga diri kita sendiri.
            Tetapi beberapa influencer millenial yang diundang dalam webinar diskusi kali ini seperti Irfan Ghafur dan Rika Sampit, sepakat menyatakan bahwa kendala yang dihadapi oleh masyarakat kita sesungguhnya adalah dari sisi daya beli masyarakat yang masih rendah, dimana selisih harga antara Premium dan versi-versi di atasnya berbeda cukup jauh.
            Sebagai masyarakat awam konsumtif yang diberi kesempatan memilih, mereka cenderung mengambil harga yang lebih murah, apalagi jika selisihnya cukup jauh. Oleh karena itu, dalam hal ini memang juga diperlukan tindakkan tegas dari Pemerintah untuk menghapus Bahan Bakar Premium, dan mengalihkan subsidinya pada versi BBM sesuai standar yang telah ditetapkan sendiri dalam undang-undang.

Tinggalkan Jejak Kebaikan Pada Setiap Langkah Kakimu di Sepanjang Jalan Kehidupan Ini

            Sebuah kalimat pepatah yang selalu saya pegang teguh dalam kehidupan. Jangan meninggalkan jejak keburukan dimanapun kita berada. Contohnya adalah hal yang sangat simpel, yaitu kita pergi piknik ke pantai, maka upayakanlah agar tak ada satu sampah pun yang tertinggal begitu saja, dibiarkan berserakan di tepiannya.
            Begitupun dengan kendaraan yang sudah tidak layak pakai karena mengeluarkan banyak sekali emisi berbahaya yang dapat mencemari udara, maka tinggalkanlah kendaraan itu di rumah, lalu berjalan kakilah, bersepeda, atau menggunakan kendaraan umum yang masih tergolong layak untuk menjadi pengguna jalan.
            Ada beberapa selentingan dari kerabat-kerabat dekat yang seringkali saya dengar juga, yaitu mereka mengelompokkan BBM sesuai strata sosial masing-masing penggunanya.
            Seperti Premium yang merupakan BBM bersubsidi diperuntukkan bagi warga menengah bawah yang digolongkan sebagai pengguna roda dua dan Angkutan Umum.
            Kemudian Pertalite yang menurut mereka diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah saja, seperti pengguna kendaraan roda 4 biasa, sementara Pertamax yang ditujukan untuk pengguna kelas menengah atas yang membawa mobil-mobil mewah atau mobil-mobil keluaran terbaru.
            Hal tersebut menandakan bahwa masih minimnya pengetahuan sebagian konsumen bahan bakar tentang kelebihan dan kekurangan bahan bakar yang mereka gunakan.
            Bahkan masih sering saya temukan beberapa pengguna kendaraan roda 4 pribadi yang ikut mengantre di jalur SPBU Premium, hanya karena membutuhkan bahan bakar yang harganya jauh lebih murah.
            Padahal, dengan memilih BBM yang tidak sesuai dengan standar kebutuhan mesin, maka kendaraannya akan meringis, alam pun ikut menjerit karenanya, lalu makhluk bernyawa yang tinggal di dalamnya hanya bisa pasrah menghirup udara yang sudah tercemar demi bertahan hidup, meski pada akhirnya ikut tumbang setelah racun banyak menumpuk di dalam tubuh.
            Apa yang kita tanam, maka itulah yang kita tuai. Ketika kita tidak peduli pada alam, mengotori mereka dengan bekas kehadiran kita yang berupa sampah, mereka menunjukkan bentuk protes dengan mengirimkan musibah banjir di berbagai daerah yang lubang saluran airnya tersumbat oleh sampah kita sendiri.
            Saat kita menyakiti alam dengan membakar hutan demi kepentingan pribadi, maka udara penuh polusi juga yang akan alam berikan untuk kita. Begitupun ketika kita tak peduli menggunakan BBM yang tidak ramah lingkungan, maka nafas terakhir yang kita hirup pun, berupa racun yang kita hasilkan sendiri.
            Masyarakat bukan tak dapat berperan penting dalam kelestarian lingkungan hidup, melainkan justru menjadi peran utama dalam berlangsungnya kelestarian alam. Segarnya udara yang kita hirup menjadi sebuah nafas kehidupan, adalah suatu bentuk pemberian kita untuk alam, yang akan kita panen kembali.
            Yang pertama dapat kita lakukan bagi lingkungan hidup di sekitar kita yaitu mulailah sadar akan sampah. Sekecil apapun sampah yang kita tinggalkan di setiap jejak langkah kaki, akan membawa dampak yang sangat besar bagi lingkungan sekitar kita.
            Kemudian, pengurangan sampah plastik dengan cara menggunakan Tas kain Go Green sebagai wadah kita untuk membawa belanjaan dari warung, mini market, supermarket, dan sebagainya, juga merupakan bentuk perlindungan kita akan alam. Dan saya rasa sudah merata di seluruh daerah di Indonesia mengenai hal ini. Di Balikpapan sendiri, seluruh lapisan masyarakatnya sudah taat, sejak adanya pelarangan penggunaan kantong plastik dengan tegas oleh Pemerintah Kota pada Bulan Juli Tahun 2018.
            Lalu bagi pengguna kendaraan, bijaklah dengan memilih BBM yang ramah lingkungan, minimal Pertamax yang mengusung Euro 2 atau RON 92. Semoga dukungan kita akan Program Langit Biru dapat memotivasi pemerintah kita juga dalam menetapkan standar tegas BBM yang diproduksi di negara kita tercinta ini.
             Jangan ijinkan bumi menangis, Kawan, karena duka itu akan menular ke seluruh makhluk hidup yang menumpang tinggal dan bernafas di dalamnya. Mari cintai bumi yang dipijak, dengan cara menjaga alamnya, lingkungannya, serta udaranya, melalui kebiasaan akan cara hidup yang baik, yang tentunya bermanfaat bagi jagad raya dan isinya.

            


You Might Also Like

23 komentar

  1. nah itu dia bahan bakar kendaraan memang harus bagus untuk kendaraan keluaran terbaru, namun terkadang harga jadi kendala..walaupun sebenarnya harga bahan bakar (BBM) di Indonesia memang lebih murah dibanding negara tetangga.

    aku sendiri kadang isi pertamax, kadang isi pertalite,,wkwkkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting, dukung Program Langit Biru selalu! ^_^

      Delete
  2. Program langit biru menarik untuk dipraktikkan. Masyarakat Indonesia perlu memilih mana yang baik dan sesuai kemampuan mau pertalite atau pertamax

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Bang, jangan lupa disesuaikan dengan kebutuhan minimal kendaraannya juga. Semoga kelak subsidi Premium, oleh Pemerintah dialihkan ke Pertamax karena Premium sudah waktunya pensiun, heheheee.

      Delete
  3. program langit biru perlu di apresiasi, namun jg butuh kekompakan bagi yg bikin regulasi agar gak tumpang tindih aturannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Mom ... semoga ntar bisa jalan berkesinambungan.

      Delete
  4. bagus nih taglinenya:
    Masyarakat Perlu Edukasi, Sementara Pemerintah Perlu Motivasi
    Pemerintah emang harus berani menghapus premium yang beroktan rendah, karena hanya Indonesia di ASEAN yang masih memproduksi BBM oktan rendah. Masa kalah dengan Vietnam ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget. Vietnam sudah menerapkan minim Euro 4. Semoga kita bisa segera menyusul, aamiin.

      Delete
  5. Murah bukan berarti hemat ya mba. Kebanyakan orang memilih BBM jenis premium tanpa melihat jenis kendaraannya karena lantaran murah, padahal pulusinya cukup tinggi. Terima kasih penjelasannya mba, jadi tahu alasannya kenapa berbeda jenis kendaraan bermotor, beda pula jenis BBMnya. Semoga program Langit biru di Indonesia bisa berjalan dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mom, harga seringkali menipu. Tapi semoga pemerintah juga bisa sepenuhnya mendukung sehingga Program Langit Biru berjalan dengan sangat baik. Aamiin.

      Delete
  6. Saya baru tahu ternyata pertama masih dibagi dalam beberapa jenis ya. Biasanya saya pakai pertalite atau pertamax biasa. Belum bisa menyumbang lingkungan secara penuh, tapi memang di situ kesanggupannya, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mom, semoga ntar subsidi premium bisa dialihkan ke pertamax ya? Hihihihii, aamiin.

      Delete
  7. Sudah lama sekali nggak denger Nugie nyanyi.

    Untuk menjaga agar langit tetap biru dan cerah, memang harus dilakukan melalui berbagai cara, bisa lewat tulisan, lagu, puisi, iklan layanan masyarakat hingga mengadakan program seperti Langit Biru ini. Tujuannya biar masyarakat sadar dan sama-sama menjaga Bumi ini.

    Ternyata program ini sudah berjalan cukup lama juga ya, hampir 25 tahun loh. Namun sepertinya kurang sosialisasi atau gimana, jadi banyak yang masih belum tau.

    Jadi, harga BBM juga bisa dilakukan pengkajian ulang, agar lebih terjangkau, biar masyarakat bisa beralih ke BBM yang ramah lingkungan.

    Serem juga kalau liat fakta 5.5 juta orang meninggal setiap tahunnya hanya gara-gara polusi udara.

    Semoga saja program ini bisa berjalan dengan suskes ya, agar langit Bumi Indonesia bisa kembali cerah dan minim polusi.

    Nice post Kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Bang. Siapa tahu ntar subsidi Premium bisa dialihkan ke Pertamax, hihihii, aamiin. Sementara sesuai kesanggupan kantong dicombine dengan kesanggupan minimal mesin kendaraan dulu.

      Delete
  8. Aq setuju sama program langit biru ini kak, selama ini pencemaran di bumi kita ini udah banyak banget termasuk pencemaran udara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, apalagi populasi kendaraan di negara kita ini juga kian meningkat. Bisa dilihat dari tingkat kemacetan di tiap daerah, apalagi yang termasuk ibu kota negara dan ibu kota provinsi.

      Delete
  9. Aku pikir masy dianjurkan beralih ke Pertalite atau Pertamax, karena Premium disubsidi, jadi cuma buat angkot atau motor. Halah...Semoga sih dihapus aja deh Premium kalau tidak ramah lingkungan...

    ReplyDelete
  10. Program Langit Biru ini udah lama ya. Semoga tetap semangat mengampanyekannya. Penambahan jumlah kendaraaan di negara kita ini gak sebanding dengan penambahan ruas jalan atau akses transportasi lainnya. Wajar jika bukannya semakin bagus lalu lintas, tapi semakin macet, dan polusi pun semakin mengkhawatirkan.

    ReplyDelete
  11. program langit biru ini sudah lama ya, tapi lama juga nggak kedengaran gaungnya. Kini kembali disuarakan. mari kita turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam program langit biru ini

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah 2 tahun terakhir ini saya dan anak-anak di rumah sudah konsisten selalu menggunakan tas kain buat menampung belanjaan dari supermarket atau warung tetangga. Hal-hal sederhana seperti ini mendukung program langit biru juga ya Mbak, noted. Tfs

    ReplyDelete
  13. BBM ramah lingkungan dengan harga merakyat sudah ada, tinggal masyarakatnya. Memang perlu diedukasi bersama agar kita makin cepat menyukseskan Program Langit Biru

    ReplyDelete
  14. kalau masih terus tunda untuk move on ke RON yang lebih baik, kapan ya program langit biru ini bisa berhasil?
    kuncinya ada ama kita semua ya ini.
    moga dengan talkshow seperti ini bisa mengedukasi masyarakat untuk menyukseskan Program Langit Biru ya Mbak :)

    ReplyDelete
  15. Program Langit Biru ini memang sangat bermanfaat. Oh iya, saya belum kasih selamat nih. Artikel ini juara nih. Semoga sukses terus

    ReplyDelete