Kehidupan Sosial Tetap Dapat Berjalan Selama Kita Masih Saling Merindukan

Sosial Media
Sosial di masa pandemi.
Sumber: Koleksi Pribadi

            Sebenarnya aku adalah seorang yang penyendiri dimana aku lebih suka menghabiskan waktuku seorang diri di dalam kamar untuk bercuap-cuap melalui tulisan atau bernyanyi. Tetapi kadang ada waktunya untuk jenuh dan ingin berkumpul bersama kawan komunitasku untuk berbicara mengenai kegemaran kita yang sama dan bagaimana agar kami bisa maju bersama-sama.

            Sayangnya pandemi yang sudah mampir ke negara kita selama satu setengah tahun ini telah menjadi hambatan terbesar untuk kita semua dapat berkumpul dan bergaul seperti dulu lagi.

            Kita tidak bebas untuk saling bertemu, bercerita, dan makan bersama lagi. Apalagi sudah terjadi beberapa kali pembatasan sosial skala besar (PSSB) sampai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang terjadi saat ini.

            Bukan hanya masyarakat biasa, bahkan untuk masyarakat pekerja dan pedagang pun dibatasi untuk berkegiatan di luar rumah, sehingga setiap orang terkungkung dalam rumah demi kebaikan dan kenyamanan bersama.

            Dari pembiasaan 3M (menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan), kini harus melakukan 5M (menggunakan dua masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas).

            Hal itu tentu membuat jemu bagi masyarakat sosial yang terbiasa melakukan mobilitas tinggi dan suka dengan keramaian.

            Kegiatan nongkrong bersama di sela-sela pekerjaan kantor untuk sekedar mengobrol dan makan bersama di warung makan, kini tidak dapat dilakukan lagi.

            Mungkin jemu itu akan berpanjangan jika kita terus meratap dan tidak memiliki cara bagaimana agar kehidupan sosial kita masih bisa berjalan dengan baik.

            Sebenarnya bagi masyarakat kantoran, komunitas sudah terbentuk dengan sendirinya dimana biasanya ada grup whatsapp khusus para karyawan di kantor tersebut, sehingga masih sering berkomunikasi dan bercanda melalui grup tersebut.

            Ya, jaman sekarang adalah masa dimana kita semua melakukan kegiatan secara virtual, tidak terkecuali untuk menjalankan kehidupan sosial.

            Aku sendiri adalah seseorang yang tidak bekerja, hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tetapi aku memiliki banyak sekali komunitas di media chat.

            Mulai dari komunitas sekolah (SD sampai universitas), komunitas sekolahnya anak-anak, komunitas blogger, komunitas influencer, komunitas job (kadang aku menerima pekerjaan sebagai micro influencer atau freelance writer), komunitas bahasa, dan masih banyak lagi.

            Disitulah aku membangun kehidupan sosialku di masa Pandemi ini. Bahkan sebelum covid 19 menyerang tanah air tercinta ini, aku dan kawan-kawan kampusku sudah menjalin silaturahmi kami dengan melakukan komunikasi langsung melalui aplikasi pertemuan maya (virtual).

            Jadi di masa sekarang ini, sebenarnya untuk berkomunikasi dan bersosial bukan menjadi masalah yang besar lagi.

            Bahkan sudah belasan tahun yang lalu kita bertemu dengan kawan-kawan lama kita melalui media sosial media, mulai dari kemunculan friendster, lalu blogspot, facebook, twitter, instagram, dan path.

            Kita juga memiliki banyak komunitas dan kenalan baru melalui media MIRC, ICQ, YM, dimana ketika itu untuk bertatap muka kita harus menambah webcam pada perangkat komputer yang kita miliki.

            Lalu mengapa saat ini, ketika teknologi telah semakin canggih, kita harus mempermasalahkan kehidupan sosial kita yang diistilahkan telah terenggut oleh pandemi dan kebijakan pemerintah?

            Aku tak akan berkomentar tentang kehidupan ekonomi yang menjadi sangat sulit karena pembatasan yang dicanangkan telah membuat seseorang kehilangan mata pencaharian, karena itu bukan ranahku. Tetapi kalau untuk sekedar urusan sosial, itu bukan menjadi masalah yang besar.

            Kadang yang membuatku kepikiran adalah kehidupan sosial anak-anak dan para ponakkanku sehingga sebelum terjadinya PPKM, aku sempat melonggarkan anak-anak untuk bergaul di taman dekat rumah dengan anak-anak tetangga rumah. Tetapi ketika mengetahui angka korban covid di kota kami meningkat drastis, kami kembali mengurung anak-anak di dalam rumah.

            Syukurlah anak-anakku yang sekolah streaming masih dapat berjumpa dengan kawan-kawannya secara virtual. Mereka yang awalnya merasa jenuh, akhirnya mulai terbiasa.

            Bahkan ketika bermain online game dengan kawan-kawannya di sekitar rumah, seringkali mereka sambil melakukan video call.

            Memang situasi yang ada saat ini membuat hati ini cukup sedih, tetapi ketika kita fokus pada hal-hal yang positif, maka hati ini menjadi lebih tenang dan nyaman juga.

            Seperti yang aku rasakan akhir-akhir ini. Situasi yang tidak kondusif di Kota Balikpapan, tempatku lahir dan dibesarkan ini, karena angka penderita covid yang meningkat, membuatku seringkali merindukan keluarga dan kerabat.

            Kami yang tadinya mulai jarang berkomunikasi satu sama lainnya, kini malah lebih sering merindukan dan saling mencari tahu kabar.

            Kalau sudah perasaan rindu itu menggebu, biasanya aku akan langsung mengambil ponselku dan melakukan video call untuk menanyakan kabarnya. Bahkan ketika aku tidak pernah mendengar kawan dekat anakku menelponnya lagi, aku yang suka 'reseh' memintanya untuk menanyakan kabar.

            Aku rindu untuk dapat menjalani hari seperti dulu lagi, tapi bukan daya kita untuk langsung menghentikannya dalam sekejap mata saja. Yang dapat kita lakukan hanyalah dengan terus menaati protokol kesehatan dan berusaha menjalani kebiasaan serta kehidupan baru.

You Might Also Like

0 komentar