Caraku Untuk Berbahagia - Menangislah Satu Kali

            

Tips Bahagia
Bahagia walau hanya bertiga (berempat sama kucing).
Sumber Foto: Pribadi


            Kalau berbicara mengenai hal-hal yang mungkin kusesali dalam hidup, akan sangat banyak sekali.

            Mulai dari ketika aku remaja, pertanyaan 'mengapa' dan 'kenapa' selalu mengiringi setiap langkah kakiku.

Kenapa sih aku tak dapat bersikap seperti remaja lainnya yang gaul, ceria dan dapat tertawa dengan bebas?

Mengapa sih aku begitu rendah diri?

Mengapa keluargaku harus mengalami kejadian-kejadian tak menyenangkan?

Mengapa krisis moneter 1998 harus menghampiri keluargaku dan kami jatuh miskin dalam sekejap mata saja?

Mengapa di saat aku mulai membangun diri menjadi gadis yang lebih ceria, aku harus mengalami hal-hal yang membuat hidupku seakan berantakan?

Mengapa aku harus jatuh cinta dengan lelaki yang berbeda agama denganku?

Mengapa kekasihku tega bermain hati di belakangku?

Mengapa aku berjodoh dengan pria yang tidak tepat untukku?

Mengapa aku harus mengalami perceraian dan menjadi seorang janda dengan dua anak di usiaku yang sudah cukup matang ini?

Mengapa setelah aku mulai jatuh cinta lagi, setelah hancurnya rumah tanggaku, secepat itu pula cinta kami berakhir?

            Mungkin itu hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang sempat hadir dalam hidupku, dan masih aku ingat dengan jelas. Bisa saja banyak pertanyaan lainnya yang sempat mampir di benakku namun telah aku lupakan.

            Akan tetapi, sebenarnya bahagia atau tidak adalah sebuah pilihan. Kalau kita memilih untuk tidak bahagia, maka sepanjang kehidupan ini kita hanya fokus pada hal-hal buruk yang kita alami.

            Setelahnya, tentu kita akan meratap dan merasa sedih tentang semua hal sial yang terjadi dalam hidup kita tersebut, sehingga merenggut rasa bahagia yang seharusnya bisa kita nikmati.

            Sementara jika kita fokus pada hal-hal yang baik dalam hidup kita, hampir tak pernah muncul lagi pertanyaan 'kenapa' dan 'mengapa' yang kita alami.

            Saat dulu aku memilih untuk tak bahagia, kini aku ingin menjalani hidup yang jauh lebih bahagia daripada sebelumnya.

            Sehingga sekarang, setiap aku ingin bertanya, "Mengapa aku menikahi orang yang salah ketika itu Yaa Rabb?", segera kubungkam hati dan benakku ini.

            Apa aku harus merasa menyesal ketika aku sudah dikaruniai dua orang anak yang sangat kucintai dalam pernikahan itu? Anak perempuan dan anak lelaki yang insyaAllah akan menemaniku dalam sisa usia ini.

            Tak semua orang memiliki hal yang telah kumiliki dan tak semua hal yang orang miliki juga aku punyai. Begitulah kehidupan, kita tak dapat mendapatkan semua hal yang kita inginkan.

            Kemudian, ketika aku ingin berucap, "Yaa Rabb, mengapa pria yang kusukai tidak bisa menerimaku apa adanya, dan membalas perasaanku seperti aku memberikan hatiku untuknya?"

            Tapi lagi-lagi aku berhasil membungkamnya kini, dengan memutar-balikkan paradigmaku, dan berkata hal-hal yang dapat mengisi energi kebahagiaan di dalam hati.

            "Ini adalah air mata terakhir untuknya. Bersedih itu wajar, tetapi bahagia itu harus. Aku sangat berharga untuk merasa disia-siakan. Dia memang tak harus menyesal jika meninggalkankanku, namun aku pun harus bersyukur karena aku berhasil terhindar dari pria yang tidak tepat untukku."

            Tak pantang bagiku untuk menangis. Orang yang bahagia bukan berarti tidak pernah menangis. Yang tak wajar adalah seumur hidup berada dalam linangan air mata.

            Menangislah ketika kamu bersedih, tetapi berjanjilah dalam hati kalau hidupmu besok akan jauh lebih bahagia. Karena tak semua hal di dunia ini bisa berjalan sesuai keinginanmu.

            Aku mungkin memang tidak beruntung dalam hal pekerjaan, percintaan, persahabatan, tetapi aku sangat beruntung memiliki kedua anakku.

            Mereka tidak dapat memilih untuk lahir dari rahim siapa, tetapi Allah mengirimkannya ke dalam rahimku, untuk memberikanku cinta, dimana orang lain mungkin tidak bisa memberikannya, sebesar cinta yang bisa mereka berikan untukku.

            


You Might Also Like

0 komentar