Adopsi Hutan - Lestarikan Keanekaragaman Hayati Hutan Yang Lebih Dari Sekedar Pohon

Bukit Bangkirai
Bukit Bangkirai.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.

        Belasan tahun silam, aku menuliskan skripsi atau dikenal juga dengan tugas akhir perkuliahan yang berjudul "Pemanfaatan Bukit Bangkirai Sebagai Ekowisata di Kalimantan Timur". Kebetulan aku mengambil perkuliahan di bidang Manajemen Kepariwisataan kala itu.

        Bukit Bangkirai adalah nama dari sebuah Hutan Lindung yang berada tidak begitu jauh dari Kota Balikpapan, yaitu sejauh 38 kilo saja jarak tempuhnya, namun berada di Kawasan Kutai Kartanegara.

        Kebetulan Bukit Bangkirai menawarkan beberapa atraksi wisata hutan juga seperti Jembatan Gantung Kanopi yang menghubungkan beberapa pohon, dan butuh menapaki anak-anak tangga yang terbuat dari kayu ulin atau bangkirai dengan ketinggian 30 meter dari permukaan tanah.

Cerita dari hutan.

        Masih teringat ketika awal aku melintasi hutan, menyusuri track yang telah disediakan guna menuju atraksi wisata yang ditawarkan oleh Kawasan Hutan Lindung tersebut, yaitu meniti jembatan gantung sepanjang 64 Meter yang menghubungkan 3 Pohon Bangkirai besar.

        Semula, image yang tertanam dalam benakku tentang hutan hanyalah kegelapan, tak ada hal menyenangkan di dalamnya.

        Dalam pikiranku ketika itu, hutan adalah tempat tinggalnya hewan buas dan manusia yang masuk ke dalamnya akan susah mencari jalan keluar.

        Sangat berbeda dengan pandangan turis asing yang datang berkunjung.
        Berdasarkan cerita perwakilan dari PT Inhutani saat menemaniku dan keluarga masuk ke dalam Kawasan Bukit Bangkirai, "Biasanya orang bule kalau datang menginap di Cottage-nya Mbak, trus malam-malam mengajak anaknya tracking di hutan."
        Wow banget pikirku kala itu.
        "Mereka justru menikmati sensasi itu Mbak, melihat ada kalajengking melintas, hal yang jarang mereka lihat, yang unik-unik gitulah." Tutur si Bapak lagi menjelaskan.
        "Nah ini pohon tumbang, berusia 250 tahun." Saat aku berkunjung sebagai bahan menulis skripsi itu masih tahun 2005.
        "Kalau yang ini namanya Pohon Gaung. Kenapa namanya Gaung? Karena kalau dipukul ada gaungan, jadi jangan takut tersesat Mbak. Pasti dibantu sama pohon." Kata Bapak itu lagi ketika kami melewati satu persatu pohon yang unik dan dirasa perlu untuk dijelaskan.
        Kala kami melintasi jalan setapak dan melihat sebuah pohon besar berpapan nama, akupun bertanya, "Ini maksudnya pohon, ada yang punya Pak?"
        Memang ada beberapa pohon yang terdapat papan bertuliskan keterangan nama Sang Pemilik.
        "Lah iya Mbak, kami membuka adopter bagi pohon-pohon yang ada di sini. Kan pohon juga butuh biaya untuk perawatan dan pelestarian Mbak."
        Wah keren, pikirku. Secinta itu mereka pada pohon sehingga pohon pun diadopsi. Termasuk si Bapak yang bercerita dengan antusiasnya mengenai hutan yang ia kelola, menandakan kecintaannya yang luar biasa.

Sensasi Hutan dari Canopy Bridge di Kawasan Wisata Alam (KWA) Bukit Bangkirai.

        Setelah melakukan tracking sejauh sekitar 500 Meter, akhirnya kami tiba juga ke tempat dimana Jembatan Gantung berada.
        Hanya aku, adikku, tanteku, dan sepupuku yang berani menguji nyali untuk naik satu demi satu anak tangga yang mengelilingi pohon bangkirai.
        Mamiku sudah duluan mengangkat kedua tangannya, sebagai tanda menyerah. Begitupun dengan papaku.

Bukit Bangkirai
Jembatan Gantung di Bukit Bangkirai.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.
                      Sungguh di luar bayanganku sebelumnya. Setelah adrenalinku berpacu dengan jantung ketika pertama kali sebelah kakiku menapaki jembatan gantung dan goyangannya sangat terasa, aku cukup menikmati berada di tengah hutan dari ketinggian.
        Meskipun ketika aku sampai di tengah jembatan dan sepupuku mau mulai ikut berjalan di belakangku, tetap saja aku berteriak histeris, karena jembatannya terasa lebih kuat berayun.
        Tapi pernah nggak sih kalian membayangkan, betapa nikmatnya melihat pepohonan yang masih asri, terlihat merata, tanpa celah, seolah saling merangkul memeluk bumi tercinta.
        Lalu terdengar berbagai macam suara alam yang tak pernah kita dapatkan di kota, selain suara knalpot mobil yang rusak beserta kepulan asapnya yang meracuni setiap udara yang kita hirup.
        Mulai dari suara burung bersahut-sahutan, suara tupai yang mungkin tengah berlompatan dari satu ranting ke ranting lainnya, serta suara jangkrik dan orang utan yang bersahut-sahutan. 
        Dan kemana kunang-kunang? Pernahkah kita melihat masih ada kunang-kunang tersisa di kota? Bahkan belalang tanaman rumput yang bernama Grasshopper pun sudah jarang kita temui.

Hewan-hewan hutan mini tapi memiliki kesan yang besar bagiku.

        Dulu waktu aku masih kecil, tinggal di rumah lamaku yang konon dulu bekas hutan juga, masih sering aku temui Grasshopper, Jangkrik, Ladybug (biasa aku sebut 'Kumbang Sedan'), bahkan lubang-lubang naga kecil yang hidup di bawah tanah.

Naga Kecil
Aku biasa menyebut hewan ini sebagai Naga.
Sumber Foto http://miftahrizkamuna.blogspot.com
        Terakhir aku berkunjung ke sana, keanekaragaman hayati yang ada, hanya sisa beberapa pohon yang hidup berdampingan dengan pemukiman penduduk.
        Adapun sempat terlihat olehku seekor tupai yang memanjat pohon kelapa dengan cepat, ketakutan bertemu manusia, yang mungkin dalam bayangannya adalah 'siap untuk memangsa'.

Jika hutan musnah, mereka juga akan musnah.

        Lalu bagaimana dengan sekumpulan monyet yang mendadak datang ke kota dan menjarah rumah warga karena kelaparan?
        Ada satu waktu rumahku sempat menjadi sasaran monyet untuk berkunjung.
        Kebetulan dapur di rumahku tipikal dapur yang terbuka. Sekumpulan monyet pun datang untuk memakani telur-telur ayam mentah milikku, yang terletak dengan manisnya di rak.
        Kalau mereka tidak menemukan telur, mereka beramai-ramai memakan daun pepaya yang pohonnya tumbuh di halaman rumahku.
Ketika para monyet berkunjung ke rumahku. Aku hanya berani memotret dari balik kaca jendela.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi.
        Mungkin saat itu hutan sedang ada masalah, seperti banyak penebangan liar misalnya, atau kebakaran hutan, sehingga mereka terpaksa berlarian masuk kota, mencari makan dengan caranya sendiri.
        Padahal biasanya tanpa mereka cari, hutan telah menyediakan semua hal yang mereka butuhkan, mulai dari tempat tinggal sampai dengan makanan.

Program Adopsi Hutan.
        
        Keanekaragaman hayati hutan yang lebih dari sekedar pohon harus kita lindungi dan lestarikan bersama-sama, oleh karena itu mari kita secara bergotong royong mengadopsi Hutan Indonesia agar bisa tetap hidup di Bumi Ibu Pertiwi ini.
        Betapa beruntungnya setiap pohon yang telah memiliki orang tua asuh, mereka tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan baik karena ada penjaminnya, lalu bagaimana dengan pohon-pohon lain yang belum menemukan adopter-nya?
        Adapun yang lebih dari sekedar pohon, bagaimana ekosistem yang berada di dalamnya, keanekaragaman hayati yang ada, keberlangsungan hidup mereka, apakah juga telah terjamin?
       Jadi, marilah kawan, kita bergotong-royong mengikuti Program Adopsi Hutan sebagai wujud kepedulian kita sebagai masyarakan non lingkungan namun turut andil dalam melestarikan hutan negeri.
        Mari kita jaga hutan bersama-sama, dimanapun kita berada. Pastikan patroli hutan berjalan lancar, pastikan ketersediaan air dan oksigen selalu ada dan baik, serta dukung masyarakat yang tinggal di sekitar hutan agar turut membantu melestarikan hutan.
        Meskipun jarak yang harus kita tempuh jauh, meskipun kita tak punya koneksi langsung dengan para penjaga hutan, tapi kita tetap dapat menjadi orang tua asuh bagi Hutan Indonesia.
        Libatkan diri dengan cara berdonasi, menyisihkan sedikit rezeki yang kita miliki untuk keberlangsungan hidup hutan di sekitar kita.
        Rayakan Hari Hutan Indonesia untuk yang pertama kalinya, yaitu pada tanggal 7 Agustus 2020, dengan mengikuti Program Adopsi Hutan.

greenpeace.org
Lestarikan hutan tempat tinggal mereka.
Sumber Foto: Greenpeace.org


        

You Might Also Like

18 komentar

  1. Hutan adalah paru-paru bumi kehidupan yg tak pernah mati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Koh, semoga semakin banyak orang yang peduli dengan kelangsungan hidup hutan.

      Delete
  2. Jadi pengen ke bukit bangkirai lagi, andai ada acara blogger kesana rame-rame pasti seru ya mbak, tahun lalu pas kesana pas angin kencang nyali benaran teruji waktu melintas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mbak. Seru yaa kalau Blogger pergi ke sana rame-rame. Semoga Pandemi segera berlalu jadi kita bisa merayakannya dengan pergi berwisata ke daerah sana.

      Delete
  3. Aku senang dengan kepeduliann banyak pihak terhadap hutan seperti ini. Apalagi kini caranya pun mudah sekali. Ada adopsi hutan untuk kelestariannya. Semoga banyak yang akan sadar jika hutan adalah milik kita semua yang mesti kita jaga keberlangsungannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Mbak. Supaya nggak terjadi lagi penebangan liar dan kebakaran hutan yang sering terjadi dahulu, sudah waktunya kita bergotong royong untuk turut andil melindunginya.

      Delete
  4. Adopsi hutan merupakan metode melestarikan hutan yanga lebih praktis. Walaupun bukan penikmat jelajah hutan, setidaknya dengan memahami manfaat menjaga hutan, masyarakat lebih mendukung dan ikut serta melestarikan hutan.

    Bagi aku hutan itu antara indah dan serem. Indah karna view dan kealamiannya untuk dikunjungi. Serem karena kesunyiannya serta kecemasan adanya hal-hal tidak terduga di hutan.

    Tapi, melestarikan nya walau tidak harus menikmati atau menjelajahi, jelas hutan sangat besar kontribusi nyata bagi lingkungan tempat kita tinggal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Mbak. Kita cukup berkontribusi dimanapun kita berada.

      Delete
  5. Mbak, photo waktu kecilnya cantik sekali yang di tengah jembatan itu.
    Sempat datang lagi kah untuk penulisan skripsi ke Bukit Bangkirai?
    Bagaimana dengan Infrastruktur dan cottage nya sekarang?

    Ternyata program adopsi pohon sudah sejak lama ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, itu saya dua kali berkunjung. Yang foto di depan bertuliskan Bukit Bangkirai itu, saya pakai baju pink, saat skripsi perkuliahan tahun 2005. Kalau foto di atas Jembatan Gantung itu waktu saya baru mau masuk Perkuliahan sepertinya. Maklum dulu motretnya masih pakai kamera yang berklise itu, heheheee, jadi irit jepretnya.

      Delete
  6. Semoga semakin banya yang sadar untuk ikut menjaga dan melestarikan hutan2 di negara kita ya, mbak.

    ReplyDelete
  7. Model adopsi hutan ini bagus ya mbak melibatkan kontribusi masyarakat untuk peduli ttg pelestarian hutan semoga ini menjadi solusi agar hutan tetap lestari

    ReplyDelete
  8. Rasanya pasti asyik ya mbak bisa masuk hutan gitu. Saya belum pernah, paling juga cuma kebun raya bogor saja��. Baru tahu kalau ada program adopsi pohon, saya pikir pohon-pohon di hutan itu dirawat oleh pemerintah

    ReplyDelete
  9. Aku paling seneng main ke hutan mba. Jadi sedih kalau hutannya rusak. Semoga kita semua bisa merawat hutan yah

    ReplyDelete
  10. Waaawww monyetnya sampe pada main ke rumah. Antar seru sama serem ya mbak takut di pencloki terus dikejar kejar hihi


    Ayo kita semua saling bantu jaga alam yaaa biar kehidupan ttp seimbang

    ReplyDelete
  11. wah kita bisa tetap menyanyangi hutan dengan mengadopsinya ya, insyaAllah jadi langkah kecil untuk kontribusi merawat bumi

    ReplyDelete
  12. Hayuk Kak, kita dukung gerakan adopsi pohon dengan menyalurkan donasi semampu kita ya, kasihan kl hutan musnah, satwa hutannya juga ikutan musnah, huhuu

    ReplyDelete
  13. Duh monyetnya kelaparan, kasihan..Program adopsi hutan ini juga membuat kita lebih peduli pada hutan Indonesia ya semoga hutan kita tetap lestari

    ReplyDelete