Cegah Bullying - Perundungan Yang Terjadi di Sekitar Kita Adalah Tanggung Jawab Bersama

          

stop bullying
Sumber Foto: canva.com

        Ketika kita melakukan sesuatu kepada orang lain dan orang tersebut tidak menyukainya tapi kita terus melakukannya hingga orang tersebut tertekan, itu adalah suatu tindak perundungan atau yang biasa kita kenal dengan bullying.

        Jika kita berpikir bahwa perundungan baru terjadi di masa-masa sekarang ini saja, akibat pengaruh perkembangan teknologi dan gadget, itu salah besar.

        Perundungan bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dilakukan oleh siapa saja dan menimpa siapapun juga.

        Aku yang terlahir di era tahun 80-an dan kemudian tumbuh besar di era tahun 90-an, pernah merasakan menjadi korban dari sikap bully yang dilakukan oleh teman-teman sekelas terhadapku.

        Saat itu kakiku menjadi berat sekali untuk melangkah pergi ke sekolah, dan sepanjang berada di sekolah aku merasa seperti berada di dalam arena siksaan, meski hanya secara batin oleh mulut-mulut jahat teman-temanku.

        Bahkan aku sempat ingin menghapus 'masa SMP' dari sejarah perjalanan hidupku karena aku merasakan banyak hal yang tidak menyenangkan yang aku alami.

        Bersyukur bahwa ketika aku mulai duduk di kelas 3, meski hanya sedikit, tetapi aku memiliki masa-masa yang menyenangkan juga. Itupun karena aku bersahabat dengan anak baru yang cantik dan cukup popular pada angkatanku. Jadi masih ada kisah yang layak untuk aku kenang.

        Betapa menyakitkannya masa-masa ketika seseorang menjadi korban bully sehingga sebisa mungkin kita harus mencegah anak-anak kita terlibat di dalam lingkaran bullying baik sebagai pelaku ataupun korban.

        Nah kalau berdasarkan pengalamanku sebagai korban perundungan oleh beberapa teman sekelasku, berikut adalah faktor-faktor seseorang dapat menjadi sasaran empuk bullying:

1. Tidak Percaya Diri.

Sebagai anak sulung dan bukan terlahir dari keluarga yang demokratis, ditambah didikan orang tua jaman dulu yang seringkali merenggut rasa Percaya Diri seorang anak, memang aku mengalami rasa minder yang parah. Aku merasa jelek, gendut, dan tak mampu bersikap dalam pergaulan.

2. Penakut.

Teman-teman melihatku sebagai sasaran empuk karena aku tidak berani melawan, dan hanya sanggup menangis saat diganggu oleh kawan-kawanku itu.

        Dalam hal ini, orang tua berperan besar agar anak-anaknya terhindar dari perundungan oleh lingkungan sekitarnya, yaitu dengan cara:

1. Menjadi sahabat terbaik.

Orang Tua harus bisa mengkondisikan diri sebagai sahabat terbaik anak, tidak sibuk dengan dunianya sendiri, mau mendengarkan saat anak berbicara dengan baik dan serius.

2. Tidak membuka aib anak.

Orang tua yang bijak akan menyimpan rahasia anak dengan baik. Tidak menegur kesalahan anak di depan orang lain atau memperoloknya.

3. Menciptakan anak yang mandiri.

Tidak semua orang tua bisa melakukan ini, karena rata-rata mereka merasa bahwa keputusan hanya ada di tangannya. Sedangkan seorang anak bebas memilih apa yang mereka sukai selama masih di dalam kebaikan dan bisa orang tua berikan, serta memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Misalnya saja seperti memilih pakaian yang mau ia kenakan sendiri, dengan sabar menunggu anak mengancing pakaian atau mengikat tali sepatu sendiri, serta mengijinkan anak makan sendiri meski hasil akhirnya berhamburan.

4. Anak patuh pada peraturan, bukan karena takut.

Orang tua boleh menerapkan peraturan di rumah, justru memang harus ada peraturan agar anak-anak menjadi lebih disiplin, tapi biarkan mereka menjadi patuh, bukan karena takut pada orang tua mereka. Orang tua seringkali tidak sabaran dalam mendidik anak, sehingga menggunakan cara lama yaitu memukul atau menyakiti fisik anak. Padahal cara tersebut sama sekali tidak efektif. Anak hanya akan takut pada saat itu saja, tetapi tidak akan membuat mereka patuh.

5. Orang tua harus menjadi sosok pendukung yang baik bagi anak mereka.

Tunjukkan kepada anak-anak bahwa orang tua adalah pendukung yang baik, seperti tidak pernah sama sekali membandingkan mereka dengan anak-anak yang lain.

        Tapi yang perlu juga kita sadari bahwa tak akan ada Korban Perundungan jika tak ada Pelaku, jadi sebagai orang tua, kita harus pastikan selalu agar anak-anak kita juga tak akan pernah menyakiti orang lain baik secara verbal maupun non verbal.

        Anak-anak yang menjadi pelaku biasanya adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang peduli terhadap ilmu parenting.

        Oleh karena itu, orang tua harus tahu, bahwa untuk mencegah anak-anak menjadi pelaku, maka hal-hal berikut ini harus dilakukan:

1. Beri perhatian bagi anak.

Mencari nafkah itu penting, terkhusus bagi ibu yang kadang ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga juga, tapi jangan lupa luangkan waktu untuk bersama anak dan memberikan perhatian meski bersifat sederhana. Contohnya seperti menanyakan 'apa mereka sudah makan', 'siapa teman akrabnya di sekolah', 'apa yang dipelajari tadi di sekolah', dan sebagainya.

2. Terapkan peraturan di rumah.

Meski di rumah bersifat santai, tapi tetap harus diterapkan peraturan agar anak-anak menjadi disiplin.

3. Beri contoh yang baik bagi anak-anak.

Kadang bukan hanya tontonan di televisi atau gadget saja yang bisa membentuk kepribadian anak, melainkan tontonan yang nyata. Antara ayah dan ibu harus ada rasa saling menghargai satu sama lain, tidak ada Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), baik antar orang tua maupun orang tua kepada anak.

        Selain orang tua di rumah, yayasan sekolah dan para guru juga sangat berperan untuk menghindari terjadinya bullying di sekolah.

        Tentunya yayasan sekolah menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif, memudahkan guru-guru melakukan pengawasan terhadap anak-anak muridnya yang jumlahnya jauh lebih banyak dari tenaga pendidiknya.

        Para Guru juga hendaknya menerapkan pola didik tanpa menggunakan kekerasan fisik agar tidak memberi contoh langsung kepada anak-anak didiknya.

        Jangan pernah juga guru melecehkan anak muridnya dengan kata-kata di depan teman-teman sekelasnya.

        Yang perlu kita pahami dengan baik adalah bahwa jika sempat terjadi perundungan di sekitar kita, maka setiap orang yang berkaitan atau yang berada di lingkungannya ikut bersalah.

        Mari kita cegah terjadinya perundungan di lingkungan sekitar kita.

You Might Also Like

0 komentar