3 Hal Yang Harus Dimiliki Anak Agar Bisa Naik Sepeda Roda Dua


Belajar Naik Sepeda
Anakku waktu baru bisa mengendarai sepeda roda dua.

       Sebagai seorang ibu, sudah hal yang lumrah mencari tahu mengenai segala hal yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak dan pola asuh. Tidak terkecuali aku, ibu dari dua orang anak yang kini berusia 6 tahun dan 2 tahun.

        Artikel-artikel seputar kesehatan anak, resep-resep masakan bergizi untuk anak-anak, psikologi anak, masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia parenting, seolah sudah menjadi santapanku sehari-hari.

        Hampir setiap ada kesempatan, aku selalu mencari tahu tentang kesehatan fisik dan mental anak-anak melalui internet, untuk mengetahui mengenai normal atau tidaknya tumbuh kembang anak-anakku sendiri.

        Nah, ada salah satu artikel yang sempat menarik perhatianku, yaitu tentang melatih keseimbangan tubuh dan otak anak melalui bersepeda.

        Jadi artikel tersebut menyebutkan bahwa bersepeda dapat membuat jiwa seorang anak menjadi lebih stabil dan mampu berpikiran cerdas.

        Siapa sih yang tidak ingin memiliki anak yang berotak cemerlang?

        Artikel itu kutemukan saat anak sulungku masih berusia 4 tahun. Akhirnya berlatihlah kami di taman dekat rumah yang ternyata banyak juga anak seusianya yang mengitari taman dengan sepedanya masing-masing.

        Bahkan ada satu orang anak lelaki seusianya yang cukup menarik perhatianku, karena di balik tubuhnya yang kurus dan tampangnya yang polos, dia lancar sekali dalam mengayuh sepeda roda dua. Sedangkan putri sulungku, Aisyah, masih menggunakan satu buah roda tambahan untuk berjaga-jaga agar saat ia kehilangan keseimbangan masih ada yang bisa menahannya untuk tidak jatuh.

        Iseng aku bertanya padanya, "Wah pandai sekali main sepedanya."

        Dia pun menjawab sambil bercerita, "Iya, papa aku kan dulu pegangin sepedaku di belakang, trus aku jalankan, aku pikir papaku masih pegangin ternyata papaku tidak ikut jalan."

        "Wah, hebat, berarti langsung bisa ya?"

        Dia mengangguk dengan pasti sambil kembali mengayuh sepedanya.

        Aku pun mencoba bersikap ala-ala papa anak itu berdasarkan ceritanya, tetapi hasilnya malah aku ikut jalan terus karena tidak tega mau melepaskan pegangan tanganku pada ekor sepeda putriku. Khawatir sekali kalau saat aku lepas, dia malah terjatuh, meski kata orang 'tak ada noda ya tak belajar'.

        Seorang ibu memang harus menguatkan mental dahulu sebelum menghadapi anaknya terluka, hehehe.

        Tapi yang membuat aku takjub, kalau memiliki kemauan, Aisyah ini pantang menyerah. Meskipun menurutnya susah sekali untuk melatih keseimbangan saat bersepeda, tapi dia terus mencobanya, hanya saja masih sering menurunkan kakinya dari pedal sepeda.

       Semakin hari aku perhatikan, justru roda tambahan yang hanya dikenakan di sebelah sisi saja (sebelah kiri roda belakangnya), membuatnya justru menjadi manja, terus menerus mengandalkan roda tersebut dan membuatnya kesulitan.

        Roda tersebut hanya membebani satu sisinya sehingga untuk menyeimbangkannya lebih sukar.

        Aku pun memutuskan agar roda tersebut dilepas sekalian, sehingga dia pure berlatih sepeda roda dua.

        Hampir setiap hari Aisyah memintaku untuk menemaninya bermain sepeda di taman. Awalnya aku masih memegangi bagian belakang sepedanya, namun setiap kali aku mencoba untuk melepaskan genggamanku, di hampir terjatuh, jadi aku mengurungkannya.

        Lama kelamaan aku membiarkannya mencoba sendiri. Dia berada di tengah lapangan basket di taman tersebut, sibuk dengan sepedanya, mencoba menyeimbangkannya sendiri, dan betapa bangganya aku ketika melihatnya berhasil.

        Dengan matanya yang bersinar dia memanggilku, "Mami, Aisyah bisa naik sepeda!"

        Belajar Naik Sepeda bagi Aisyah bukan hal yang mudah juga, tetapi kegigihannya membuatnya cepat bisa, sehingga aku menarik beberapa kesimpulan agar anak segera berhasil mengendarai sepeda roda dua.

1. Kemauan.

Tentunya yang harus dimiliki seorang anak adalah kemauan terlebih dahulu. Jika ia tidak begitu berminat untuk bersepeda, maka ia akan malas berlatih.

2. Keberanian.

Seorang anak harus memiliki keberanian terlebih dahulu. Seperti cerita anak yang kami temui di taman juga dimana ia mengatakan bahwa ia mengira ayahnya masih mengawasinya di belakang, sehingga tanpa ragu ia terus mengayuh sepedanya.

3. Percaya Diri.

Ketika seorang anak percaya pada dirinya sendiri, maka dia akan pantang menyerah. Meskipun gagal masih akan terus mencobanya hingga berhasil.

        Nah, jadi 3 hal tersebut di atas itulah yang harus dibangun terlebih dahulu pada diri seorang anak, agar ia segera dapat mengendarai sepeda roda dua untuk melatih keseimbangan otaknya.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Naaah anakku yg bungsu nih masih belum berani mba. Kakanya dulu cepet naik sepeda roda dua. Tapi beda karakter Ama si adek. Cm aku ga mau terlalu maksain juga. Pelan2 aja aku sounding utk belajar supaya dia ntr bisa nyusul mbak nya kalo sedang main sepeda. Moga aja lama2 jadi berani :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa betul banget Mbak ... beda anak beda karakter ya?

      Delete