Kita Hidup Dengan Mimpi dan Harapan

            

Harapan
Aku di Novus Puncak. Ilustrasi.
Sumber Foto: Koleksi Pribadi

            Setiap orang memiliki mimpinya masing-masing, bahkan ketika usia mereka masih sangat belia.

            Ketika dulu, kelas 4 Sekolah Dasar, ada yang bertanya padaku tentang mau jadi apa aku ketika dewasa kelak. Aku akan menjawab bahwa aku ingin menjadi ballerina. Aku ingin menjadi tokoh Mary yang ada dalam komik balet yang aku baca dan aku koleksi.

Baca juga: Koleksi Komik Jadul Melahirkan Mimpi

            Kemudian seiring waktu, aku sudah duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1997, aku mulai suka membuat perencanaan pada halaman belakang buku tulisku, yaitu aku ingin menjadi seorang ibu dengan 4 orang anak, dua anak lelaki dan dua anak wanita.

            Karena saat itu aku merasa kalau aku menjadi seorang ibu, maka akan jauh lebih baik daripada ibuku. Bukan berarti Mamiku tidak baik, tapi aku hanya merasa kalau didikan kedua orang tuaku menjadikan aku tidak mandiri, peragu, dan memiliki krisis percaya diri.

            Bahkan aku sudah merancang nama anak-anakku kelak dan merencanakan kursus apa yang akan aku berikan pada mereka kelak. Itu waktu aku masih duduk di bangku SMP loh. Saat teman-teman yang lain masih menikmati perasaan taksir-taksiran ala remaja, aku justru sudah merencanakan untuk memiliki anak-anak.

            Sah-sah saja terjadi, karena dengan adanya mimpi dan harapan di masa mendatang, setiap orang merasa bahwa dirinya layak untuk hidup di dunia. Semangatnya untuk menghadapi hari menjadi lebih besar daripada seseorang yang pesimis dan tak punya impian akan masa depan.

            Kebetulan saat SMP, aku seorang yang penyendiri. Lebih cenderung berada di dalam kelas daripada berkumpul dengan kawan-kawan di kantin atau di luar kelas. Perasaanku yang sensitif membuatku memilih untuk tak memiliki banyak teman, karena aku mudah sakit hati dengan perkataan yang pedas dan sinis.

            Aku menjadi lebih terbuka ketika aku sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku memiliki banyak teman, bahkan first time pacaran. Tapi aku menganggap itu kini sebagai cinta-cinta monyetan saja, bukan serius, dan masih berteman baik sama semuanya.

            Sudah mulai kenal pacar-pacaran, malah lupa merajut mimpi. Yang aku pikirkan saat itu hanya ingin meninggalkan Kota Balikpapan untuk memulai image-ku yang baru, yang agak bebas dan berani. Paling tidak, jauh dari kata manja dan jauh dari setiap orang yang mengenalku di kota ini.

            Dan tentunya lulus sekolah adalah masa yang paling dinanti, agar aku bisa memohon orang tuaku menguliahkanku di luar kota.

            Karena aku suka menulis, maka aku sempat memohon untuk mengirimku ke salah satu kampus di Bandung dan mengambil Sastra Indonesia. Tapi suaraku memang kurang berarti dan aku nggak terbiasa ngotot untuk mempertahankan pendirianku, lagipula aku takut salah pilih juga lalu disalahkan oleh mereka.

            Nah karena itu yang paling seram, hehehe, jadi aku memilih untuk mengikuti apa yang para orang tua aturkan untukku saja. Aku mengambil Manajemen Kepariwisataan di Nusa Dua - Bali. Kebetulan ada tanteku yang tinggal di Ubud, jadi dapat menjengukku setiap hari minggu.

            Begitulah maksud hati kedua orang tuaku, agar aku tetap ada yang pantau walau hanya seminggu sekali.

            Kerjaanku di Bali bukannya belajar, aku justru menikmati jalan-jalannya, kumpul-kumpulnya, bahkan aku pernah bolos satu mata kuliah dosen killer yang berujung skripsiku nyaris terhambat karena dia menolak memberikan nilai, membuatku harus mengejarnya setiap hari.

            Prestasiku yang menonjol justru ketika itu adalah menulis puisi dimana puisiku sering sekali terpampang di laman tabloid remaja nasional, yang membuatku hampir setiap hari kedatangan surat dari sahabat pena.

            Bahkan tukang posnya sampai hafal denganku, dan ketika aku sudah pindah kos pun, masih ada saja surat yang mempir ke kamar kosku dahulu.

            Pada waktu itu aku mulai berpikir kalau rasanya aku bisa menjadi penulis walau tidak masuk jurusan sastra. Akhirnya aku mulai menulis cerita pendek dan ketika ceritaku dimuat di majalah wanita, aku senang banget. Honornya bisa dibilang lumayanlah, sekitar  300 ribu.

            Kemudian tamat kuliah, selama belum dapat kerja, aku mencoba menulis cerita bersambung dan ternyata dimuat oleh salah satu majalah wanita bergengsi nasional selama 4 edisi berturut-turut. Kala itu aku menerima honor 3 Juta Rupiah untuk satu cerita itu. Excited banget!

            Aku mulai memupuk mimpiku kembali. Apapun yang aku tahu aku tulis. Aku mulai membuat blog, dan menulis apapun yang aku sukai dan tidak sukai. Karena ada satu kelemahanku, kalau lagi patah hati atau punya masalah lainnya, aku stuck menulis fiksi, nggak bisa mengkhayal, tapi dengan adanya blog aku tetap bisa meluapkan perasaanku melalui tulisan.

            Itulah awal mula aku bermimpi untuk menjadi seorang penulis, dan bisa terus exist hingga hari ini di dunia sosial media.

            Sampai hari ini mimpiku masih sama, yaitu aku ingin terus mengembangkan bakat menulisku. Dan yang paling ingin aku capai, suatu saat karya tulis fiksiku bisa difilmkan oleh salah satu rumah produksi di Indonesia, kalau bisa sekalian aku yang jadi penulis skenarionya.

            Tetapi, sebagai seorang ibu saat ini, seseorang yang pernah gagal dalam berumah tangga, fokus pikiranku ada pada kedua anakku. Dimana kini kedua anakku hanya punya aku seorang yang diharapkan mampu untuk memusatkan pikiranku.

            Kalau ada yang bertanya, apa aku ingin menikah lagi? Ya, of course, aku masih seorang wanita yang normal. Tetapi sebelum ada seseorang yang dapat menyakinkanku kalau dia sungguh menginginkanku dan mampu menjadi ayah sambung yang baik bagi kedua anakku, maka sendiri membesarkan anak-anak jauh lebih baik.

            Sebagai orang yang pernah mengalami kegagalan dalam rumah tangga, aku tak ingin gagal kembali, sedangkan dalam menilai seseorang itu tak dapat hanya secara kasat mata. Ada hal-hal dari dalam diri seseorang yang tak dapat kita ketahui sehingga butuh pengenalan yang lebih dekat lagi.

            karena semenjak berpisah dengan mantan suamiku, aku pernah berpikir untuk tak menikah lagi, hanya fokus pada kedua anakku, tapi pada akhirnya perasaan di dalam hati tak mampu juga berbohong.

            Hatiku masih bisa merasakan cinta pada seseorang, sehingga aku sempat berjanji juga pada diriku sendiri bahwa pada pernikahan kedua, aku akan lebih mengalah dan menurut, mengabdi pada suamiku. Untuk itu, aku tak boleh menjadikannya pengabdian yang sia-sia karena bertemu dengan pria yang tak tepat lagi.

            Jadi harapanku untuk masa depan jika dirangkum, adalah sebagai berikut:

  1. Menjadikan karya tulisku sebagai ide cerita film.
  2. Menjadi penulis skenarionya.
  3. Membesarkan anak-anakku dengan mandiri.
  4. Pernikahan kedua yang sukses bagiku dan anak-anak.
  5. Memberikan anak-anakku kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dengan keluarga yang normal dan sempurna.

 


You Might Also Like

0 komentar